Tingginya permintaan dari perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, NVIDIA, dan Qualcomm membuat kuota produksi menjadi sangat terbatas.

Hukum pasar ini pada akhirnya memicu lonjakan harga sewa fasilitas manufaktur global.

Dampak Finansial bagi Konsumen

Konsekuensi dari tingginya biaya chipset senilai Rp5,2 juta ini akan mendongkrak total Bill of Materials (BOM) sebuah ponsel pintar.

Estimasi kalkulasi biaya produksi satu unit perangkat flagship premium dapat melambung tinggi.

Komponen layar LTPO AMOLED 2K membutuhkan biaya sekitar Rp2 juta, sementara sektor kamera utama 200 MP beserta lensa tele memakan anggaran Rp3 juta.

Sektor daya yang meliputi baterai 5.500 mAh dan fast charging 100W memerlukan dana Rp1,2 juta.

Sisi eksterior yang menggunakan material titanium atau keramik menelan biaya produksi sekitar Rp1,5 juta.

Jika diakumulasikan dengan harga chipset Snapdragon 8 Gen 6 Pro sebesar Rp5,2 juta, maka total BOM bisa menembus angka Rp13 juta.

Nilai tersebut belum mencakup kalkulasi margin keuntungan vendor, pajak perangkat, rantai logistik, serta biaya pemasaran produk.

Kondisi ini diprediksi membuat harga eceran resmi di pasar melonjak ke kisaran Rp18 juta hingga Rp22 juta per unit.

Perkiraan harga jual tersebut berpotensi melampaui banderol iPhone 17 Pro Max di sejumlah wilayah.

Perangkat seperti Samsung Galaxy S27 Ultra atau Xiaomi 15 Ultra diproyeksikan menjadi ponsel Android pertama yang menembus harga di atas Rp20 juta di Indonesia.

Pergeseran Strategi Vendor Ponsel

Kondisi ini tidak lantas menutup peluang hadirnya ponsel flagship berbiaya lebih rendah bagi konsumen luas.

Qualcomm tetap menyediakan alternatif lini menengah yang lebih efisien seperti Snapdragon 6 Gen 5 dan 4 Gen 5.