Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi besar Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) di Indonesia.

Wilayah sebaran potensi komoditas ini mencapai sekitar 1,2 juta hektar.

>>> Telkom Solution Dorong Transformasi Digital BUMN dengan AI dan Keamanan Siber

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan lokasi kandungan LTJ membentang dari Pulau Sumatera, Sulawesi Barat, hingga Papua Barat.

Mineral strategis ini menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik, magnet permanen, perangkat elektronik, dan energi terbarukan.

Potensi LTJ di Berbagai Wilayah

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa sumber daya LTJ Indonesia sangat melimpah.

Kandungan ini tersimpan di dalam batuan granit, vulkanik alkalin, hingga batuan ultramafik.

"Indonesia memiliki potensi endapan LTJ yang cukup besar, salah satunya berasal dari batuan granit dan volkanik berkomposisi alkalin, ultramafik, serta tanah hasil pelapukannya yang kaya kandungan logam tanah jarang," ujar Iwan dalam Webinar Lecture Series yang digelar Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi Badan Industri Mineral (BIM) pada Senin (18/5/2026).

Keberadaan potensi LTJ di Indonesia umumnya masih berstatus sebagai mineral ikutan dari komoditas pertambangan utama. Beberapa di antaranya meliputi tambang bauksit, timah, nikel, tembaga, dan besi.

Proses hidrotermal juga ikut memperkaya konsentrasi unsur tanah jarang di sejumlah wilayah daratan. Daerah yang tercatat memiliki kandungan tersebut antara lain Parmonangan, Sibolga, dan Bangka Belitung.

Selain area daratan, wilayah perairan Indonesia juga menyimpan potensi komoditas strategis ini di bawah lapisan lempung dasar laut.

Kandungan monasit dan senotim pembawa unsur tanah jarang tersebut berkaitan dengan endapan placer di sungai serta pantai purba.