Labubu Mulai Ditinggalkan, Saham Pop Mart Terperosok Lebih dari 30 Persen
Gelombang aksi jual menekan saham Pop Mart International Group Ltd. dalam beberapa hari terakhir, menyusul meningkatnya keraguan pasar terhadap keberlanjutan pertumbuhan bisnis perusahaan yang sangat bergantung pada karakter boneka Labubu.
Dalam lima sesi perdagangan hingga Selasa, nilai saham perusahaan mainan koleksi asal China itu merosot lebih dari 30 persen. Penurunan tersebut terjadi tak lama setelah perusahaan merilis laporan keuangan terbaru yang menegaskan dominasi Labubu dalam sumber pendapatan mereka.
Koreksi Tajam Setelah Laporan Keuangan
Tekanan jual ini memperpanjang tren penurunan dari posisi tertinggi yang dicapai pada Agustus. Sejak saat itu, harga saham Pop Mart telah terpangkas hampir 60 persen dan menghapus sekitar US$33 miliar dari nilai kapitalisasi pasar perusahaan.
Sentimen investor berubah drastis setelah laporan kinerja dirilis. Sejumlah analis menurunkan target harga saham, sementara aktivitas short selling meningkat seiring kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.
Analis konsumen Deutsche Bank AG, Sammi Xu, menyatakan pasar kemungkinan belum sepenuhnya menghitung potensi skenario penurunan jangka panjang dengan margin keuntungan yang lebih rendah.
Dalam penjelasannya, Xu menilai tekanan berasal dari perlambatan penjualan baik di pasar domestik China maupun luar negeri, tingginya tingkat persediaan, serta revisi turun proyeksi laba sepanjang tahun.
Ketergantungan Besar pada Labubu
Popularitas Labubu melonjak secara global sepanjang tahun lalu dan menjadi salah satu contoh keberhasilan produk hiburan China menembus pasar Barat.
Lonjakan minat tersebut sempat mendorong saham Pop Mart melonjak sekitar 300 persen sejak awal 2025 hingga mencapai rekor tertinggi pada Agustus.
Namun kekhawatiran bahwa tren tersebut hanya bersifat sementara mulai membayangi pasar. Investor meragukan kemampuan perusahaan mengulang kesuksesan Labubu melalui karakter lain.
Data perusahaan menunjukkan seri Monsters yang dipimpin Labubu menyumbang sekitar 40 persen dari total pendapatan tahun lalu, meningkat dari 23 persen pada 2024.
Sementara itu karakter lain seperti Crybaby dan Molly mencatat performa penjualan di bawah ekspektasi pasar.
Persediaan Meningkat
Perputaran persediaan Pop Mart juga mengalami kenaikan signifikan. Hingga akhir 2025, periode perputaran mencapai 123 hari atau meningkat sekitar 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perusahaan menjelaskan kenaikan tersebut dipicu oleh waktu pengiriman yang lebih panjang, ekspansi penjualan internasional, serta penambahan jaringan toko di berbagai wilayah.
Update Terbaru
DPRD Kota Banjar Soroti Pelanggaran Hak Buruh di PT Alba
Selasa / 19-05-2026, 18:36 WIB
Kemkomdigi Kaji Aturan Wajib Nomor Ponsel untuk Akun Media Sosial
Selasa / 19-05-2026, 18:34 WIB
Pengadilan Spanyol Perintahkan Refund Pajak Rp1,13 T ke Shakira
Selasa / 19-05-2026, 18:29 WIB
iQOO Z11 Lite 5G Terlihat di Geekbench dengan Dimensity 6300
Selasa / 19-05-2026, 18:24 WIB
PLN Padamkan Listrik di Batang dan Kuningan untuk Pemeliharaan Jaringan
Selasa / 19-05-2026, 18:16 WIB
Mantan Bos Samsung Prediksi Harga RAM DDR5 Segera Turun Drastis
Selasa / 19-05-2026, 18:14 WIB
Gaikindo Catat Penjualan Sejumlah Model Mobil Melonjak pada April 2026
Selasa / 19-05-2026, 18:09 WIB
Mobil Listrik Chery Q Resmi Debut di Indonesia, Tawarkan Paket Sigma
Selasa / 19-05-2026, 18:04 WIB
Review Redmi Note 15 Pro 5G: Layar Memukau dan Baterai Titan
Selasa / 19-05-2026, 17:59 WIB
Subsidi Kendaraan Listrik Lebih Tepat untuk Daerah Sulit BBM
Selasa / 19-05-2026, 17:54 WIB
Pemerintah Matangkan Skema Insentif Besar Mobil Listrik Berbasis Nikel
Selasa / 19-05-2026, 17:49 WIB
Gugatan Elon Musk Terhadap OpenAI dan Sam Altman Resmi Ditolak Pengadilan
Selasa / 19-05-2026, 17:44 WIB
Xiaomi Peringatkan Harga HP Flagship China Bisa Tembus Rp 25 Juta
Selasa / 19-05-2026, 17:39 WIB
Chery Pastikan Rakit Lokal Mobil Listrik Chery Q di Indonesia
Selasa / 19-05-2026, 17:34 WIB






