Labubu Mulai Ditinggalkan, Saham Pop Mart Terperosok Lebih dari 30 Persen
Buyback Belum Menghentikan Tekanan Pasar
Langkah perusahaan melakukan pembelian kembali saham belum berhasil meredakan tekanan investor.
- Nilai buyback mencapai sekitar HK$1,3 miliar.
- Program ini dimulai setelah penurunan harian 23 persen pada 25 Maret.
- Namun harga saham tetap berada di kisaran terendah.
Saat ini saham Pop Mart diperdagangkan sekitar 10,3 kali proyeksi laba ke depan, jauh di bawah rata-rata tiga tahun yang berada di kisaran 24 kali.
Manajer dana Sparx Group Co., Angus Lee, menilai valuasi tersebut memang terlihat murah. Namun kondisi serupa juga terjadi pada banyak saham konsumen China lainnya.
Menurutnya, daya tarik utama Pop Mart selama ini bertumpu pada cerita pertumbuhan karakter ikonik seperti Labubu serta potensi munculnya karakter global berikutnya.
“Narasi itu kini terasa jauh lebih tidak pasti,” katanya.
Strategi Mencari Karakter Baru
Untuk mempertahankan momentum bisnis, Pop Mart mempercepat peluncuran karakter baru seperti Skullpanda dan Twinkle Twinkle.
Perusahaan juga merilis berbagai koleksi kolaborasi yang menggabungkan sejumlah intellectual property sekaligus.
Di sisi lain, ekspansi global Labubu tetap menjadi prioritas melalui kerja sama dengan Sanrio Co. serta kolaborasi terkait FIFA World Cup.
Pop Mart juga menyiapkan proyek film animasi Labubu bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment Inc.
Tekanan dari Short Seller
Data dari S3 Partners menunjukkan meningkatnya aktivitas short selling terhadap saham perusahaan tersebut.
- Sekitar 123 juta saham dipinjam untuk posisi short.
- Angka ini naik sekitar 16 persen sejak laporan kinerja diumumkan.
- Volume opsi jual (put) juga mencetak rekor tertinggi pada Rabu.
Analis konsumen Bernstein, Melinda Hu, menilai pasar masih meremehkan tantangan yang akan dihadapi perusahaan.
Ia menyebut perlambatan pertumbuhan, normalisasi margin keuntungan, atau kejenuhan terhadap karakter yang ada dapat memicu koreksi valuasi yang lebih besar.
Jika kondisi tersebut terjadi, proyeksi laba konsensus analis berpotensi mengalami revisi turun dalam waktu mendatang.
Update Terbaru
Huawei Resmi Luncurkan Monitor Profesional Qingyun M273U dengan Layar 4K 160Hz
Selasa / 19-05-2026, 19:34 WIB
Polres Sukoharjo Mitigasi Gangguan Layanan SKCK Online SPKT
Selasa / 19-05-2026, 19:26 WIB
Omoda Jaecoo Cetak Rekor Penjualan 1 Juta Unit Mobil dalam Tiga Tahun
Selasa / 19-05-2026, 19:24 WIB
Mantan Hacker Hapus 96 Database Pemerintah AS Setelah Dipecat Perusahaan
Selasa / 19-05-2026, 19:19 WIB
PO Sinar Jaya Resmi Buka Rute Baru Kalideres-Sukabumi
Selasa / 19-05-2026, 19:14 WIB
Dugaan Pelecehan Dosen UIN Solo Disorot, Korban Pertanyakan Sikap Kampus
Selasa / 19-05-2026, 19:12 WIB
8 Penyebab Utama Konsumsi BBM Mobil Boros, Wajib Dihindari
Selasa / 19-05-2026, 19:09 WIB
Platform X Pangkas Batas Unggahan Harian Akun Gratis Secara Ekstrem
Selasa / 19-05-2026, 19:04 WIB
Sopir Mobil Dianiaya di Cibubur Akibat Keributan Klakson
Selasa / 19-05-2026, 18:59 WIB
Juri California Tolak Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI
Selasa / 19-05-2026, 18:54 WIB
Honda Patenkan Kopling Elektronik untuk Motor Listrik CR Electric Proto
Selasa / 19-05-2026, 18:49 WIB
Komponen Penting yang Wajib Diperiksa Saat Membeli Honda Brio Bekas
Selasa / 19-05-2026, 18:44 WIB
DPRD Kota Banjar Soroti Pelanggaran Hak Buruh di PT Alba
Selasa / 19-05-2026, 18:36 WIB
Kemkomdigi Kaji Aturan Wajib Nomor Ponsel untuk Akun Media Sosial
Selasa / 19-05-2026, 18:34 WIB






