Menurutnya, nilai strategis drone ini justru berasal dari kombinasi biaya rendah dan kemampuan produksi dalam jumlah besar.

Ia menggambarkan sistem tersebut sebagai senjata murah yang dapat memberikan kemampuan serangan udara bagi Iran.

Meskipun tidak selalu memiliki tingkat presisi tinggi, drone ini kadang berhasil melewati sistem pertahanan udara mahal milik lawan.

Kehadirannya juga dapat menciptakan gangguan besar karena jumlahnya yang banyak.

Serangan ke berbagai wilayah sekaligus

Dalam eskalasi konflik terbaru, Iran melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke Israel serta pangkalan Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah.

Sasaran mencakup wilayah Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.

Dengan membuka beberapa medan operasi sekaligus, Iran memaksa sistem pertahanan udara lawan untuk menyebar di wilayah yang sangat luas.

Setiap rudal pencegat yang digunakan untuk melindungi satu lokasi tidak dapat dialihkan ke tempat lain karena jumlahnya terbatas.

Kondisi tersebut membuat perlindungan di setiap titik menjadi lebih lemah.

Beberapa analisis pertahanan memperkirakan Iran memiliki antara 80.000 hingga 100.000 drone Shahed dari berbagai varian.

Produksi yang terus berjalan sekitar 500 unit per bulan memungkinkan Iran meluncurkan gelombang serangan drone dalam jumlah besar.

Dalam skenario mobilisasi penuh, Iran diperkirakan mampu meluncurkan lebih dari 2.500 drone per hari selama periode tertentu.

Persediaan rudal pencegat menipis

Para pejabat dan analis Barat memperingatkan bahwa persediaan rudal pencegat dapat kesulitan menghadapi volume serangan tersebut.

Tekanan terhadap stok amunisi sebenarnya sudah terlihat sejak konflik pada Juni 2025.

Selama 12 hari pertempuran saat itu, Amerika Serikat menembakkan sekitar 150 pencegat sistem Terminal High Altitude Area Defense untuk melindungi Israel.