Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total persediaan pencegat yang tersedia saat itu.

Setiap rudal pencegat THAAD bernilai sekitar 15 juta dollar AS dan membutuhkan waktu produksi ulang antara tiga hingga delapan tahun.

Sistem yang sama kini juga digunakan untuk melindungi beberapa wilayah sekaligus di Timur Tengah.

Tekanan pada senjata mahal AS

Keterbatasan tidak hanya terjadi pada pencegat THAAD.

Stok rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang serta berbagai senjata yang diluncurkan dari pesawat juga menghadapi tekanan.

Situasi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap kepemimpinan serta fasilitas militer Iran.

Serangan tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei yang memimpin Iran selama puluhan tahun.

Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap berbagai lokasi yang berkaitan dengan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pengaruh Shahed di berbagai konflik

Di luar Timur Tengah, drone Shahed-136 sebelumnya juga digunakan Rusia dalam konflik di Ukraina.

Rusia bahkan memproduksi versi lokal yang dikenal dengan nama Geran di fasilitas industri dalam negeri.

Versi tersebut kemudian dimodifikasi dan digunakan dalam berbagai serangan selama perang di Ukraina.

Amerika Serikat juga mulai mengembangkan drone serang satu arah yang terinspirasi dari desain Shahed.

Drone tersebut dikenal dengan nama LUCAS dan dikembangkan oleh perusahaan SpectreWorks yang berbasis di Arizona.

Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan drone tersebut telah digunakan dalam operasi melawan Iran, meskipun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Jika konflik berkepanjangan, para analis menilai perbedaan biaya antara drone murah Iran dan rudal pencegat mahal Amerika Serikat dapat menjadi tantangan besar dalam jangka panjang.