Museum Wayang di kawasan Kota Tua Jakarta perlahan mengubah citra museum yang gelap dan seram.

Tempat ini mengajak pengunjung mengenal dunia wayang dengan cara yang lebih modern dan interaktif.

>>> Warga Perbatasan Kaltara Ancam Pindah ke Malaysia karena Terabaikan

Terletak tidak jauh dari Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Wayang menyajikan produk budaya Nusantara yang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga alat transfer nilai.

Zona dan Koleksi Museum Wayang

Museum ini terbagi dalam beberapa zona, mulai dari sejarah wayang, ragam wayang lokal dan mancanegara, hingga kisah dalam pertunjukan wayang.

Di lorong depan, pengunjung disambut tiga tokoh wayang golek berukuran besar: Ramawijaya, Rahwana, dan Duryudana. Di sisi kanan terdapat cerita sejarah berdirinya museum.

Sebelum menjadi Museum Wayang, bangunan ini adalah gereja bernama Oude Hollandsche Kerk atau Kruiskerk (1632). Setelah rusak, dibangun gereja baru yang diresmikan pada 1736.

Pada 1808, gereja dibongkar dan dijual akibat gempa.

Gedung kemudian berganti fungsi menjadi gudang, lalu Museum Kota (Stedelijk Museum) pada 1939, Museum Jakarta Lama pada 1962, dan akhirnya Museum Wayang pada 13 Agustus 1975.

Di dalam museum, terdapat Wayang Golek Menak Kebumen, Wayang Golek Menak Pekalongan, Wayang Golek Pakuan Bogor, dan Wayang Golek Cepak Cirebon.

Ada pula Wayang Klithik yang terbuat dari lapisan kayu tipis.

>>> Indonesia Usulkan Tiga Kerja Sama Strategis di WAICO, Dorong Transfer Teknologi AI hingga Pengembangan Talenta

Di zona awal, terdapat nisan dan taman kosong yang merupakan bekas pemakaman Belanda. Makam tokoh VOC, termasuk Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (1627-1629), berada di sini.

Wayang Nusantara dan Mancanegara