Mengapa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan Terjadi Berpasangan? Ini Sebabnya
Gerhana--
Gerhana kerap dianggap sebagai peristiwa langka yang muncul tiba-tiba. Padahal, kemunculannya mengikuti pola astronomi yang teratur dan bisa diprediksi jauh hari.
Dalam satu tahun, umumnya terdapat dua periode khusus yang disebut musim gerhana. Pada fase inilah gerhana Matahari dan gerhana Bulan berpeluang terjadi, bahkan hampir selalu muncul berdekatan dalam selang sekitar dua pekan.
Apa yang Dimaksud Musim Gerhana?
Musim gerhana merupakan rentang waktu sekitar 31 hingga 37 hari ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan memungkinkan terjadinya gerhana. Periode ini hadir setiap kurang lebih 173 hari, atau dua kali dalam setahun.
Di luar jendela waktu tersebut, gerhana tidak mungkin terjadi karena susunan ketiga benda langit itu tidak berada dalam konfigurasi yang tepat.
Gerhana Matahari hanya dapat berlangsung saat fase bulan baru, sementara gerhana Bulan terjadi ketika fase purnama. Pada kedua kondisi itu, Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus yang dalam astronomi dikenal sebagai syzygy.
Namun, keselarasan itu saja belum cukup. Posisi tersebut juga harus berada dekat dengan bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari yang disebut ekliptika.
Jika bulan baru terjadi di dekat bidang ini selama musim gerhana, bayangan Bulan dapat jatuh ke Bumi dan memicu gerhana Matahari. Sebaliknya, ketika bulan purnama berada dalam posisi serupa, Bulan bisa masuk ke bayangan Bumi sehingga terjadilah gerhana Bulan.
Mengapa Tidak Terjadi Setiap Bulan?
Siklus bulan baru dan purnama berlangsung setiap 29,5 hari. Secara teori, kondisi ini tampak memungkinkan gerhana terjadi rutin tiap bulan.
Faktanya tidak demikian karena orbit Bulan miring sekitar lima derajat terhadap ekliptika. Akibat kemiringan ini, sebagian besar bulan baru maupun purnama melintas sedikit di atas atau di bawah garis bayangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan gerhana.
Kunci penentu ada pada dua titik perpotongan orbit Bulan dengan ekliptika yang disebut node. Musim gerhana dimulai ketika Matahari berada dekat salah satu node tersebut.
Selama Matahari masih berada di sekitar titik itu, peluang gerhana terbuka. Ketika posisinya menjauh, musim gerhana pun berakhir.
Perhitungan orbit jangka panjang menunjukkan bahwa node Bulan bergerak perlahan ke arah barat sekitar 19,3 derajat per tahun. Pergeseran ini membuat musim gerhana datang sekitar 19 hari lebih awal setiap tahunnya.
Mengapa Hampir Selalu Berpasangan?
Begitu musim gerhana dimulai, dua peristiwa hampir tak terhindarkan. Jika fase bulan baru terjadi lebih dulu di dekat node, gerhana Matahari akan berlangsung.
Sekitar dua minggu kemudian, saat Bulan mencapai fase purnama dan berada dekat node berlawanan, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga tercipta gerhana Bulan.
Urutannya bisa juga terbalik. Dalam kondisi tertentu yang sangat presisi, bahkan dapat terjadi tiga gerhana dalam satu musim, meski kebanyakan hanya menghasilkan dua.
Musim Gerhana 2026
Tahun 2026 menjadi contoh jelas pola tersebut dengan dua musim gerhana besar, masing-masing menghadirkan sepasang gerhana.
Februari–Maret 2026
Musim pertama dimulai pada 17 Februari 2026 dengan gerhana Matahari cincin. Pada peristiwa ini, sekitar 96 persen permukaan Matahari tertutup Bulan, menyisakan lingkaran cahaya tipis yang dikenal sebagai cincin api selama maksimum 2 menit 20 detik.
Fenomena cincin api hanya dapat disaksikan dari sebagian wilayah Antarktika, sementara gerhana sebagian terlihat di Antarktika, Afrika tenggara, dan sebagian Amerika Selatan.
Dua minggu berselang, tepatnya 3 Maret 2026, terjadi gerhana Bulan total. Bulan akan berada sepenuhnya di dalam bayangan umbra Bumi selama 58 menit 18 detik.
Asia Timur, Australia, kawasan Pasifik, dan Amerika Utara bagian barat menjadi wilayah dengan pemandangan terbaik. Pada puncaknya, Bulan akan tampak berwarna merah tembaga yang kerap disebut sebagai blood moon.
Agustus 2026
Musim kedua berlangsung pada Agustus 2026. Pada 12 Agustus, gerhana Matahari total akan melintasi Greenland, Islandia, hingga Spanyol utara.
Di jalur totalitas, siang hari akan berubah gelap selama beberapa menit, suhu udara menurun, dan korona Matahari dapat terlihat dengan mata telanjang.
Sekitar dua minggu kemudian, 28 Agustus 2026, musim ini ditutup dengan gerhana Bulan sebagian. Bayangan Bumi akan menutupi sebagian besar permukaan Bulan dan dapat diamati dengan baik dari Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Afrika.
Pola berulang inilah yang membuat gerhana Matahari dan gerhana Bulan hampir selalu datang berpasangan, mengikuti ritme kosmik yang konsisten dari tahun ke tahun.