Amalan pertama dan paling utama tentu berpuasa. Namun, puasa yang bernilai bukan sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan juga meninggalkan kebohongan, perbuatan sia-sia, dan akhlak buruk yang merusak pahala.

Amalan berikutnya adalah membaca Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan, maka tilawah dan tadabbur menjadi penguat ruhani yang sangat dianjurkan, disertai upaya memahami dan mengamalkannya.

Ramadan juga dikenal sebagai bulan kedermawanan. Rasulullah SAW memberi kabar gembira bahwa orang yang memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala mereka.

Amalan malam yang khas di Ramadan adalah salat Tarawih atau qiyamul Ramadan. Ibadah ini menumbuhkan kekhusyukan sekaligus memperkuat kebersamaan jamaah di masjid.

Pada sepuluh hari terakhir, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah, termasuk i’tikaf. Rasulullah SAW dikenal menjaga i’tikaf terutama di akhir Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Nabi SAW menganjurkan umatnya mencarinya di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, memperbanyak doa, dan memohon ampunan kepada Allah.

Menjelang akhir Ramadan, zakat fitrah menjadi kewajiban yang harus ditunaikan sebelum hari raya. Zakat fitrah berfungsi menyucikan diri dan membantu saudara-saudara yang membutuhkan agar kebahagiaan Idulfitri bisa dirasakan lebih merata.

Ramadan adalah kesempatan memperbaiki iman, akhlak, dan kebiasaan. Semoga setiap amal yang dikerjakan di bulan ini menjadi jalan menuju ampunan, rahmat, dan derajat takwa.