Di pelabuhan-pelabuhan utama sepanjang pantai tenggara China, kendaraan listrik buatan China terus dimuat ke kapal pengangkut mobil yang menuju ke berbagai penjuru dunia.

Namun bagi industri kendaraan energi baru (NEV) China, memuat kontainer bukan lagi tujuan akhir — itu hanyalah langkah pertama.

>>> Resmi Bergabung dengan MCU, Ryan Gosling Siap Memerankan Johnny Blaze dalam Film 'Ghost Rider' yang Disutradarai Shawn Levy

Kini sebagai eksportir NEV terbesar di dunia, China dengan cepat mengubah strategi globalnya.

Pergeseran terjadi dari ekspor produk ke pengembangan global berbasis ekosistem yang terlokalisasi.

Bagi banyak negara, perubahan ini berarti lebih dari sekadar mobil listrik terjangkau.

Ini membawa investasi segar, lapangan kerja lokal, dan jalur yang lebih cepat menuju transisi hijau mereka sendiri.

Data resmi dari Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM) menunjukkan bahwa China mengekspor 2,615 juta NEV pada tahun 2025.

Angka itu naik 103,7 persen dari 1,284 juta pada tahun 2024.

Pada paruh pertama tahun 2026, ekspor mencapai 2,355 juta unit, naik 120 persen secara tahunan.

NEV telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor China.

Penjualan Luar Negeri Makin Bergairah

Kendaraan listrik China tidak lagi dipandang sebagai alternatif murah.

Mereka bersaing kuat dalam hal performa, fitur pintar, dan desain.

XPENG Motors menonjol sebagai salah satu yang terdepan.

Pada tahun 2025, perusahaan mengirimkan lebih dari 45.000 kendaraan ke luar negeri, naik 96 persen secara tahunan.

Eropa menyumbang hampir setengahnya, sementara Asia-Pasifik mencatat pertumbuhan kuat.

Sebuah pusat di Mesir menjadi jangkar pasar Timur Tengah dan Afrika.

Pada Maret 2026, XPENG meluncurkan rencana tiga tahun untuk menjangkau Amerika Latin pada 2028, dengan Meksiko sebagai langkah pertama.