Momentum ini juga dirasakan oleh GAC Group, yang menganggap pasar luar negeri sebagai pendorong pertumbuhan utama dalam transformasinya.

Pada paruh pertama 2026, GAC Group mengekspor 121.500 kendaraan di bawah mereknya sendiri, melonjak 132 persen secara tahunan.

Di Timur Tengah, model seperti GAC Trumpchi dan GAC HYPTEC telah memenangkan hati konsumen lokal dengan kualitas andal dan teknologi canggih.

Di Asia Tenggara, pabrik knockdown-nya mendukung produksi dan penjualan lokal.

Sementara di Eropa, GAC menargetkan NEV pintar kelas atas.

"Pasar luar negeri adalah pendorong pertumbuhan utama bagi kami.

Tujuan kami adalah membawa produk GAC ke pasar global yang lebih luas," kata Chen Jiacai, wakil manajer umum GAC Group.

Ia menargetkan 250.000 ekspor pada 2026 dan 1 juta pada 2030, dengan kehadiran di 120 negara dan kawasan.

Dari Ekspor ke Lisensi Teknologi

Bagi produsen mobil terkemuka China seperti BYD, GAC, dan XPENG, ambisi mereka melampaui volume.

Mereka beralih dari ekspor produk ke lisensi teknologi, manufaktur lokal, dan pembangunan merek yang mendalam.

Model ini lebih berkelanjutan dan terintegrasi untuk go global.

>>> BI dan Pemprov Sumut Perkuat Sinergi Lewat Kreatif Sumut 2026

Della Hernita, seorang staf universitas di Jakarta, dan suaminya baru-baru ini memesan mobil listrik BYD.

"Awalnya kami mempertimbangkan biaya perjalanan harian, tetapi kemudian kami menemukan biaya perawatan juga lebih rendah, dan perbedaannya akan terlihat dalam jangka panjang," kata Hernita.

"Tentu saja, kami juga ingin memilih cara bepergian yang lebih hijau."

Dari Jakarta hingga Surabaya, NEV China semakin diminati keluarga Indonesia.

Permintaan yang meningkat ini mendorong produsen mobil China untuk membentuk kembali strategi global mereka — membangun pabrik di luar negeri, melisensikan teknologi inti, dan membentuk standar global.