“SDM kita sebenarnya sudah memiliki kompetensi yang baik,” katanya.

>>> Bambang Pamungkas Bela Skuad Timnas Indonesia Pilihan John Herdman untuk Piala AFF 2026

Ketua Masyarakat Ahli Survei Kadaster Indonesia (MASKI) Komisariat Wilayah Jawa Barat, Encep Gani Sugandi, mengatakan perusahaan harus mempersiapkan diri sejak tahap perencanaan.

“Sebelum mengikuti tender, perusahaan harus melakukan koordinasi internal, terutama dengan tim administrasi,” ujarnya.

Encep menjelaskan mekanisme evaluasi tender pada proyek yang didanai lembaga internasional bersifat objektif. Penilaian mencakup pemeriksaan dokumen administrasi, kemampuan teknis, pengalaman, hingga ketersediaan sumber daya.

“Mekanisme semacam ini justru menguntungkan perusahaan nasional yang mempersiapkan diri dengan baik,” katanya.

Ia juga menilai keterlibatan perusahaan asing dalam International Competitive Bidding (ICB) tidak perlu dipandang sebagai ancaman.

Menurut Encep, kolaborasi dengan perusahaan internasional dapat mempercepat transfer teknologi dan meningkatkan kapasitas industri geospasial nasional.

“Dari sisi peralatan maupun personel, beberapa perusahaan nasional sudah memiliki kemampuan yang memadai,” ujarnya.

Selain penguatan kapasitas perusahaan, kedua narasumber menilai penguasaan teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing.

Raden menyebut teknologi seperti LiDAR, radar, foto udara, kecerdasan buatan (AI), dan cloud computing mampu mempercepat akuisisi serta pengolahan data geospasial.

“Teknologi akan sangat membantu apabila dipadukan dengan SDM yang kompeten dan proses bisnis yang baik,” katanya.

Sementara itu, Encep menilai AI dapat mempercepat proses ekstraksi fitur dan pengolahan data, namun hasilnya tetap memerlukan validasi tenaga ahli.

>>> 8 Drama China CEO Romantis Terbaru, Dari Benci Jadi Cinta!

“AI memang sangat membantu pekerjaan geospasial. Namun hasilnya tetap harus difilter dan divalidasi sehingga data yang digunakan benar-benar akurat,” tegasnya.