Selama ini saya menganggap semua kabel USB-C sama.

Jika colokannya pas, saya yakin kabel itu bisa mengisi daya, memindahkan file, dan menjalankan fungsi lainnya dengan baik.

>>> Menperin Agus Gumiwang Targetkan Indonesia Jadi Pusat Pengolahan Kakao Dunia

Namun, kenyataannya berbeda. Satu kabel bisa menyalin file dalam hitungan detik, sementara kabel lain membutuhkan waktu menit.

Saya pun menyalahkan ponsel atau laptop, padahal masalahnya ada pada kabel.

Setelah memeriksa spesifikasi kecil yang tercetak di kabel atau tersembunyi di halaman produk, saya sadar bahwa kabel USB-C tidak bisa dipertukarkan begitu saja.

USB-C Hanya Bentuk Fisik, Bukan Standar Performa

USB-C hanya mendeskripsikan bentuk konektor, bukan kemampuan kabel. Dua kabel USB-C bisa terlihat identik namun mendukung fitur yang sangat berbeda.

Satu kabel mungkin hanya menangani pengisian daya dan kecepatan data USB 2.0.

Kabel lain bisa mentransfer file puluhan gigabit per detik, mengisi daya laptop berperforma tinggi, dan bahkan terhubung ke monitor eksternal.

Kabel yang lambat menyalin foto dari SSD eksternal belum tentu rusak. Kabel itu memang tidak dirancang untuk transfer data berkecepatan tinggi.

Demikian pula, kabel yang mengisi daya ponsel dengan sempurna belum tentu bisa menjalankan monitor karena tidak mendukung output video.

Charger Cepat Saja Tidak Cukup

Salah satu kejutan terbesar adalah mengetahui bahwa charger cepat saja tidak cukup. Charger, perangkat, dan kabel harus mendukung kemampuan pengisian daya yang sama.

Jika salah satu dari ketiganya kurang, seluruh sistem akan turun ke kemampuan terendah. Misalnya, mencolokkan charger laptop 100W ke laptop yang mendukung 100W tidak menjamin Anda mendapat 100W.

Jika menggunakan kabel USB-C dasar, kecepatan pengisian mungkin terbatas hingga 60W, meskipun charger dan laptop mampu lebih.