Kabel USB-C entry-level biasanya memiliki rating 3A, yang membatasi daya hingga 60W (20V × 3A). Untuk daya lebih besar, diperlukan kabel 5A yang dilengkapi chip e-marker.

Chip e-marker adalah sirkuit terintegrasi kecil yang memberi tahu charger berapa banyak daya yang dapat ditangani kabel dengan aman.

Tanpa chip ini, charger akan membatasi output secara otomatis.

Anda tidak bisa mengetahui apakah kabel USB-C memiliki chip e-marker hanya dengan melihatnya. Periksa lembar spesifikasi atau halaman produk; produsen biasanya menyebutkan jika kabel tersebut e-marked.

Kecepatan Transfer Data Berbeda

Banyak kabel USB-C hanya mendukung kecepatan USB 2.0, yang maksimal 480Mbps.

Ini cukup untuk mengisi daya ponsel atau menyinkronkan file, tetapi jauh lebih lambat dibandingkan USB 3.2 (5Gbps hingga 20Gbps) atau USB4 (hingga 40Gbps).

>>> Cara Mudah Dapat Saldo Dana Rp277.000 dari Aplikasi Undo Cinema 2026

Komputer, perangkat penyimpanan, dan kabel semuanya harus mendukung standar yang sama, atau koneksi akan turun ke yang paling lambat.

Sekarang saya menyimpan kabel berkecepatan tinggi khusus untuk SSD eksternal dan menggunakan kabel USB-C dasar terutama untuk mengisi daya.

Tidak Semua Kabel USB-C Bisa ke Monitor

Salah satu masalah paling membingungkan terjadi saat saya mencoba menghubungkan laptop ke monitor eksternal. Kabel masuk dengan sempurna ke kedua perangkat, tetapi monitor tetap gelap.

Setelah memeriksa pengaturan tampilan dan mencoba port berbeda, saya akhirnya menemukan bahwa masalahnya ada pada kabel.

Saya mengira setiap kabel USB-C bisa membawa sinyal video, tetapi kenyataannya tidak. Dukungan video tergantung pada perangkat dan kabel.

Banyak monitor USB-C menggunakan DisplayPort Alternate Mode (DP Alt Mode), yang memungkinkan koneksi USB-C mengirimkan sinyal video DisplayPort.