Data program menunjukkan di Desa Gangga Dua, kesepakatan penutupan musiman perikanan meningkatkan pendapatan nelayan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta setiap musim tangkap.

Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Program yang berjalan sejak 2019 itu mencatat penguatan pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas lebih dari 1,6 juta hektare.

Selain menjaga terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, program ini mendorong ekowisata, usaha pengolahan hasil laut, serta penguatan kelompok masyarakat pesisir.

>>> Bekal Orang Tua Mendidik Anak di Era Digital, Tak Melulu Screen Time

Jean-Marc Roda dari CIRAD Prancis menekankan keterlibatan masyarakat sebagai kekuatan utama program.

"Mereka menjadi pengelola keanekaragaman hayati yang sesungguhnya. Dan keanekaragaman hayati itu memberi mereka imbalan kembali," tegasnya.

Ia menyebut nelayan setempat membuat kesepakatan sendiri untuk menjaga wilayah pemijahan ikan tanpa menunggu perintah pemerintah.

Roda menjelaskan Minahasa Utara secara ekologis merupakan titik pertemuan fauna dan flora dari Pasifik, Australia, dan Asia.

"Kalau dilihat per kilometer persegi, di wilayah inilah tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, bisa lebih tinggi dari Kongo atau Amazon," katanya.

Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, Sharon Lennon, menyebut kawasan ini sebagai daerah dengan sambutan hangat dan alam yang terjaga.

"Laut bukan batas yang memisahkan pulau dan komunitas, melainkan urat nadi kita bersama," tutur dia.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menyambut kunjungan ini sebagai bentuk pengakuan atas kerja sama internasional.

"Kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kami, karena menegaskan kuatnya sinergi internasional dalam mendukung agenda keberlanjutan global di daerah kami," sebutnya.

Pemerintah provinsi juga menyampaikan keinginan Sulawesi Utara menjadi tuan rumah forum internasional COP pada 2030.

Secara keseluruhan, program ini telah mendukung 21 kawasan konservasi perairan seluas 1,63 juta hektar di empat provinsi: Sulawesi Utara, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh.

Program ini menjangkau lebih dari 5.700 penerima manfaat langsung, termasuk kelompok pengawas masyarakat, pelaku ekowisata, dan pengolah hasil laut oleh perempuan pesisir.

Namun, pendanaan program dari Eropa memasuki tahun terakhir, sehingga keberlanjutannya bergantung pada kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

>>> Farhan Halim Ungkap Cara Tuntaskan Dendam Lawan Kamboja di SEA V Cup

Chaibi menutup kunjungan dengan mengatakan, "Singkatnya, apa yang dilindungi Manado, diwariskan untuk dunia."