Ledakan Terdengar di Iran Saat AS Umumkan Serangan Bertubi-tubi
Ledakan terdengar di sejumlah wilayah Iran saat Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara untuk malam kedelapan berturut-turut pada Minggu (19/7) dini hari waktu setempat.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru ini bertujuan menghukum Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) setelah serangan rudal dan drone Iran di pangkalan militer AS di Yordania yang menewaskan dua personel AS.
Selain dua korban tewas, satu personel dilaporkan masih hilang dan empat lainnya dirawat di rumah sakit.
CENTCOM juga menyebut serangan ini untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.
Sasaran Serangan
Media Iran, Mehr dan Tasnim, melaporkan serangan menghantam kawasan dekat Sirik di Provinsi Hormozgan serta Pulau Qeshm.
Tasnim juga melaporkan satu lokasi di dekat Shadegan, Provinsi Khuzestan, turut menjadi sasaran.
Menurut laporan media Iran, tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut. Infrastruktur permukiman maupun fasilitas komersial juga disebut tidak mengalami kerusakan.
Dalam pernyataan lanjutan, CENTCOM menyebut sasaran meliputi fasilitas pengawasan pantai, sistem pertahanan udara, kemampuan maritim, hingga lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Iran.
>>> Netanyahu Dihadiahi Jersey Argentina Jelang Final Piala Dunia 2026
Serangan terbaru ini memperpanjang rangkaian operasi militer AS terhadap Iran yang telah berlangsung selama delapan malam berturut-turut.
Ketegangan Diplomatik Meningkat
Di sisi lain, ketegangan diplomatik kedua negara juga terus meningkat.
Teheran menyatakan menangguhkan komitmennya terhadap kesepakatan awal yang sempat dicapai dengan Washington bulan lalu.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahkan menyebut tanda tangan Presiden AS Donald Trump dalam kesepakatan tersebut sebagai sesuatu yang tidak bernilai.
Pemerintahan Trump sendiri hingga kini belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arah operasi militernya maupun langkah diplomatik yang akan ditempuh setelah sepekan konflik kembali memanas.
>>> Bentrok Berdarah Adonara NTT: 3 Tewas, 7 Luka, 20 Rumah Dibakar
Sejak perang kembali pecah pada Februari, sedikitnya 16 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 430 lainnya mengalami luka-luka, menurut data CENTCOM.
Update Terbaru
Tanda Sakit Halus pada Anjing Sering Terlewatkan, Studi Ungkap
Minggu / 19-07-2026, 21:49 WIB
Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Mengubah Segalanya dalam Kanker Usus Besar
Minggu / 19-07-2026, 21:49 WIB
21 Penyakit dan Layanan RS Ini Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Minggu / 19-07-2026, 21:49 WIB
Final Piala Dunia 2026: Argentina vs Spanyol, Duel Dua Filosofi
Minggu / 19-07-2026, 21:49 WIB
Buttonscarves Gelar Tropical Paradise Takeover 2026 Bertema Under The Sea
Minggu / 19-07-2026, 21:22 WIB
Motorola Razr 2025: Satu-satunya Ponsel yang Mendekati Pixel 11
Minggu / 19-07-2026, 21:22 WIB
Fitur Taskbar Baru Android 17 Akhirnya Atasi Masalah Terbesar Saya dengan Pixel Fold
Minggu / 19-07-2026, 21:22 WIB
Galaxy Z Fold 8: Samsung Gagalkan Harapan Saya pada Foldable Lebar
Minggu / 19-07-2026, 21:22 WIB
Rekaman Bodycam: Pria Bersampar Todong Polisi Denver Sebelum Ditembak
Minggu / 19-07-2026, 21:22 WIB
Ohio Hapus Parole bagi Pembunuh Petugas Penegak Hukum
Minggu / 19-07-2026, 21:21 WIB
Dua Deputi Sheriff Florida Ditembak saat Penyergapan, Tersangka Tewas
Minggu / 19-07-2026, 21:21 WIB
ATF Tetapkan BolaWrap 150 Bukan Senjata Api
Minggu / 19-07-2026, 21:20 WIB
Indonesia Siap Dukung Ekosistem AI Terbuka dan Inklusif
Minggu / 19-07-2026, 21:07 WIB
Panduan Beralih ke ColorOS untuk 5 Model Realme Terbaru di 2026
Minggu / 19-07-2026, 21:07 WIB







