Keputusan Flathub untuk menolak aplikasi yang terlalu bergantung pada AI atau yang disebut "AI slop" sempat menuai kontroversi.

Banyak yang menganggap langkah itu terlalu keras dan menghambat inovasi, namun data terbaru justru membuktikan sebaliknya.

>>> Karl-Anthony Towns Mediasi Tom Brady dan Logan Paul di Fanatics Fest

Developer Linux Evangelos Paterakis, pembuat aplikasi Tuba dan Turntable, menelusuri nasib aplikasi-aplikasi yang sebelumnya ditolak Flathub.

Hasilnya, dari 120 repositori aplikasi yang ditolak, hanya 32 yang masih aktif dan 88 sudah ditinggalkan.

Artinya, mayoritas aplikasi yang sempat diperdebatkan hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya ditinggalkan.

Paterakis mengakui penelitiannya tidak bersifat ilmiah ketat, namun angka tersebut memberikan gambaran bahwa proyek AI yang muncul tidak memiliki komitmen jangka panjang.

Sebelumnya, ada anggapan bahwa Flathub menghalangi masa depan Linux dengan melarang aplikasi hasil AI.

Namun kenyataannya, sebagian besar aplikasi tersebut bahkan tidak sempat berkembang menjadi proyek yang benar-benar dipelihara.

Masalah Utamanya Bukan AI, Tapi Maintainer

Flathub sejak awal tidak mengatakan bahwa aplikasi AI pasti buruk.

Masalah utamanya ada pada proses review, karena banyak developer hanya meminta AI menghasilkan ribuan baris kode tanpa benar-benar memahami isinya.

Akibatnya, para reviewer Flathub harus memeriksa kode yang bahkan pembuatnya sendiri belum tentu mengerti.

Ketika reviewer meminta perbaikan, sebagian developer hanya kembali bertanya ke AI dan mengirimkan hasil baru tanpa memperbaiki akar masalahnya.

>>> Bethesda Umumkan Fallout 5 di Tengah Restrukturisasi Xbox

Proses review menjadi jauh lebih berat bagi para sukarelawan yang menjaga kualitas Flathub. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utamanya bukanlah AI, melainkan kurangnya komitmen dari para maintainer.