Vibe Coding dan Realitas Pemeliharaan

Istilah "vibe coding" semakin populer, di mana dengan bantuan AI, orang yang tidak mengerti teknologi pun bisa membuat aplikasi hanya bermodalkan ide dan beberapa prompt.

Namun, membuat aplikasi hanyalah langkah pertama.

Yang jauh lebih sulit adalah memperbaiki bug, menambahkan fitur baru, menjaga kompatibilitas, menjawab laporan pengguna, dan merawat proyek selama bertahun-tahun.

Dari sanalah banyak proyek AI mulai berguguran.

Thom Holwerda dari OSNews menambahkan, jika AI benar-benar membuat developer bisa lebih fokus pada inovasi, seharusnya sudah mulai terlihat banyak aplikasi Linux yang revolusioner.

Namun kenyataannya, sebagian besar aplikasi AI masih berkutat pada hal sederhana seperti Pomodoro timer, aplikasi catatan, chat AI wrapper, music player, dan utility kecil.

Belum banyak aplikasi kompleks atau benar-benar inovatif yang lahir dari gelombang AI tersebut.

Data ini menegaskan bahwa AI memang bisa membantu membuat aplikasi lebih cepat, tetapi tidak bisa menggantikan komitmen untuk merawat sebuah proyek.

Pada akhirnya, kualitas software bukan hanya ditentukan dari seberapa cepat dia dibuat, melainkan juga seberapa lama ia dipelihara.

>>> Ignacio Maestro Puch Bawa Puebla Kalahkan FC Juarez

Keputusan Flathub untuk menolak aplikasi AI yang tidak bertanggung jawab kini terbukti tepat.