Kain tenun Bayeux yang legendaris telah tiba di British Museum dari Prancis dalam sebuah misi diplomasi budaya yang signifikan.

Kedatangan dilakukan secara rahasia pada malam hari untuk menjaga keamanan artefak berusia hampir 1.000 tahun tersebut.

>>> Mengenal Ekosistem Robinhood Chain: Token, dApps, dan Fitur Unggulan

Sekelompok kecil tamu, termasuk pejabat Inggris, telah melihat langsung sulaman sepanjang 70 meter itu pada Selasa (18/2/2025) saat persiapan akhir untuk pameran publik yang dijadwalkan pada September mendatang.

Proses peminjaman ini membutuhkan negosiasi rumit selama bertahun-tahun antara London dan Paris.

Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy mengungkapkan kekagumannya saat pertama kali melihat langsung artefak tersebut. "Anda bisa merasakan betapa luasnya permadani itu saat memasuki ruangan," ujarnya.

Nandy menambahkan bahwa proyek ini terasa nyata saat Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi British Museum tahun lalu dan menandatangani dokumen resmi.

"Saat itulah semuanya terasa nyata bagi saya," katanya.

Pejabat museum menerapkan protokol konservasi ketat selama peninjauan, termasuk mewajibkan peserta mengenakan alat pelindung. Ketua British Museum George Osborne berkelakar, "Kami terlihat seperti sekelompok pedagang keju."

Kurator utama Michael Lewis memandu para tamu melihat bagian kain yang menggambarkan William Sang Penakluk.

Osborne bertanya tentang legitimasi sejarah invasi abad pertengahan tersebut, dan Lewis menjawab bahwa klaim William atas takhta tidak sah.

Nandy bercanda menuduh Osborne mencoba menghidupkan kembali konflik kuno. "Anda mencoba memicu pertempuran kuno," katanya.

Osborne pun berkelakar bahwa ia ingin memberitahu Presiden Macron.

Nandy menekankan bahwa perundingan diplomatik yang mendetail sangat penting untuk mencegah kerusakan pada artefak yang rapuh. "Tidak boleh ada risiko kerusakan sedikit pun," tegasnya.