Diskusi teknis mencakup spesifikasi transportasi dan lingkungan pameran, seperti jenis kotak, suhu, dan pencahayaan.

Menurut Nandy, keberhasilan peminjaman ini menandai perubahan dari hubungan antagonis pasca-Brexit antara Inggris dan Prancis.

"Setelah kesepakatan awal, pembicaraan terhenti tidak hanya karena pandemi, tetapi juga karena hubungan yang sangat antagonistis selama bertahun-tahun antara Inggris dan Prancis," ujar Nandy.

>>> Roemah Koffie Angkat Budaya Nusantara Lewat Blend Kopi "Cublak Suweng"

Ia melihat kedatangan artefak ini sebagai penutup babak sulit tersebut.

Nandy berbagi kenangan masa kecil saat pertama kali melihat permadani itu dalam perjalanan sekolah ke Prancis. "Saya ingat merasa mual karena minum terlalu banyak cokelat panas," kenangnya.

Meski demikian, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam yang ingin ia bagikan kepada siswa modern.

Pemerintah berencana mengundang anak sekolah dari seluruh Inggris untuk melihat artefak guna meningkatkan kesadaran sejarah di kalangan muda.

"Ada cukup banyak orang di Inggris yang menganggap Bayeux Tapestry sebagai salah satu artefak paling terkenal di dunia," kata Nandy.

Namun, ia mengakui bahwa banyak warga muda yang tidak tahu apa-apa tentang karya seni bersejarah ini.

Negara berupaya mengintegrasikan program pertukaran budaya secara lebih sistematis ke dalam kerangka kebijakan luar negeri.

Nandy menyebut hubungan dengan China sebagai contoh kompleks di mana koneksi budaya tetap vital meskipun ada perbedaan politik.

"Hubungan antarmanusia sangat penting," ujarnya, seraya mengakui tantangan terkait kebebasan berbicara, sensor, hak asasi manusia, dan keamanan.

Mengenai perdebatan tentang akuisisi museum yang kontroversial, Nandy menyatakan bahwa institusi harus terlibat langsung dengan topik tersebut.

"Seni selalu menjadi cara untuk menantang status quo," katanya, seraya menambahkan bahwa karya kreatif membantu meninjau kembali narasi sejarah dan masa depan.

Meskipun keputusan peminjaman spesifik berada di tangan masing-masing institusi, Nandy menegaskan bahwa pemerintah dapat memfasilitasi dialog terbuka.

"Untuk menjangkau dengan tangan persahabatan," ujarnya, merujuk pada berbagai artefak kontroversial seperti Marmer Elgin atau Perunggu Benin.

>>> Kisah Meme Muhammad Ibnu: Watermark Besar yang Jadi Viral

Sesi foto terakhir diwarnai candaan tentang menyentuh kain yang rapuh. Seorang pengunjung tak dikenal berbisik, "Quelle horreur," saat konservator memantau artefak.