Spesialis anti-narkotika Shreekumar Menon mengatakan kepada DW bahwa geng Bishnoi mewakili generasi baru kejahatan terorganisir India yang canggih secara teknologi dan beroperasi secara luas melalui jaringan diaspora yang terdesentralisasi.

"Tidak seperti D-Company milik Dawood Ibrahim atau sindikat Chhota Rajan yang beroperasi melalui poros Dubai-Mumbai menggunakan jaringan penyelundupan yang berpusat pada emas dan perak, geng Bishnoi mewakili generasi baru kejahatan terorganisir India," kata Menon.

Geng ini menggunakan aplikasi pesan terenkripsi dan platform media sosial untuk mengoordinasikan pengiriman narkoba internasional, mendapatkan senjata, dan memeras uang dari pemilik bisnis Asia Selatan di seluruh dunia.

"Meskipun tidak dapat dibandingkan dengan skala kartel Kolombia, kemunculannya di lanskap narkoba dan pemerasan Amerika Utara menandai perubahan signifikan.

>>> AS Gelar Konferensi Global Lawan Terorisme Sayap Kiri, Menuai Kritik

Geng India lama dipandang sebagai aktor regional, tetapi kasus Bishnoi menunjukkan bahwa mereka kini menjadi pemain dalam kejahatan terorganisir transnasional," kata Menon.

Tantangan Penegakan Hukum Global

Direktur Eksekutif Institute for Conflict Management Ajay Sahni menyatakan bahwa teknologi modern telah memungkinkan kelompok kriminal ini melewati struktur hierarki tradisional.

"Kasus Bishnoi bukanlah awal dari internasionalisasi kejahatan terorganisir India.

Ini menandai titik di mana penegakan hukum internasional akhirnya menyusul ancaman yang telah berkembang selama beberapa dekade," kata Sahni kepada DW.

Sahni menjelaskan bahwa fragmentasi yurisdiksi terus menghambat upaya penegakan hukum global sementara sel-sel kriminal dengan cepat berkolaborasi lintas batas.

"Komunikasi terenkripsi, mata uang kripto, dan perjalanan internasional murah telah memungkinkan sel-sel yang terhubung secara longgar untuk berkolaborasi lintas benua tanpa hierarki kaku yang diandalkan sindikat lama," katanya.