"Dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama konflik ini, Iran menjadi sangat kreatif. Bagi saya, ini menunjukkan adanya peningkatan tingkat kecanggihan," ujar Shah.

Ia menjelaskan, kelompok peretas dari Iran, Rusia, China, dan sejumlah negara lain telah lama mengeksploitasi kelemahan pada protokol SS7 untuk melakukan aktivitas pemantauan terhadap target mereka.

Pada 2025, peneliti dari perusahaan keamanan siber asal Swedia, Enea, juga menemukan adanya perusahaan pengawasan di Timur Tengah yang memanfaatkan kerentanan serupa untuk melacak lokasi pengguna ponsel tertentu.

Di Amerika Serikat, ancaman tersebut turut menjadi perhatian Kongres.

Sejumlah anggota Kongres menilai Kementerian Pertahanan AS masih belum optimal dalam melindungi personel militernya di Timur Tengah dari ancaman siber.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya juga mengakui telah menerima berbagai laporan mengenai potensi penyalahgunaan data lokasi komersial untuk menargetkan personel militer AS.

Meski kemampuan operasi siber Iran masih dinilai berada di bawah Rusia maupun China, para analis menilai aktivitas siber Teheran terus berkembang dan menjadi tantangan keamanan yang semakin serius bagi kepentingan Amerika Serikat.

>>> Ramalan Zodiak 16 Juli: Libra Kontrol Pengeluaran, Scorpio Hindari Godaan

Sebelumnya, pada Februari 2026, kelompok yang berafiliasi dengan badan intelijen Iran mengklaim bertanggung jawab atas penyebaran email serta foto-foto yang dicuri dari akun pribadi Direktur FBI, Kash Patel.