Istri dan dua anak tersangka teror bom SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, MY (34), telah diungsikan oleh keluarga.

Anak pelaku juga tidak lagi bersekolah di SD tersebut setelah kasus terungkap.

>>> Amran Ancam Cabut Izin Distributor Pupuk Usai Mahasiswa Keluhkan Harga Mahal

Ketua RT 03/RW 04 Gang Kidan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Anton Sianipar, mengungkapkan hal itu.

Ia mengatakan istri dan anak pelaku sudah tidak tinggal di lingkungan RT setempat.

"Anak pelaku dan istrinya saat ini sudah tidak tinggal lagi di lingkungan RT 03 RW 04, sudah diungsikan pihak keluarga di rumah orang tua dari pihak perempuan," kata Anton saat ditemui di Jagakarsa, Rabu (15/7).

Keputusan itu diambil melalui banyak pertimbangan setelah kejadian teror bom. Kepindahan ini juga bertujuan menghindari trauma bagi istri dan dua anak yang dikhawatirkan datang dari warga sekitar.

"Dia setelah kejadian itu anak sama istri diungsikan dan anaknya itu sudah tidak bersekolah lagi di SDN Srengseng Sawah itu, jadi belum didampingi pihak kepolisian atau Komisi Perlindungan Anak," ucapnya.

Motif Pelaku Tersinggung Soal Seragam

Polisi mengungkap motif peneror bom berinisial MY (34) di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi. Pelaku tersinggung dengan ucapan guru terkait biaya seragam sekolah anak.

>>> Jadwal 5 Wakil Indonesia di 16 Besar Japan Open 2026

Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi mengatakan, beberapa hari sebelum kejadian pelaku menanyakan masalah seragam.

Guru menjawab, 'Udah, enggak usah beli seragamnya, saya tahu kondisi kamu kan begitu'.

Pelaku mengaku menerima perkataan itu saat berdialog dengan salah satu guru di sekolah. Ia merasa tersinggung dan nekat melakukan aksi teror, namun tidak menyangka berujung kehebohan.

Polisi menetapkan MY (34) sebagai tersangka dalam kasus teror bom pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Senin (13/7).

Teror bom terungkap dari pesan pribadi melalui WhatsApp yang diterima guru saat upacara MPLS.

Pesan tersebut diterima oleh guru kelas 1 dan staf Tata Usaha (TU), yang kemudian melapor ke polisi.

>>> Wellnest Festival 2026 Hadirkan HYROX, Pilates, dan Cardio Dance, Daftar Sekarang

Isi pesan WhatsApp itu berupa ancaman akan meledakkan bom ke 11 titik sekolah dan meminta pihak sekolah tidak melapor ke polisi.