"Namanya usaha kadang naik kadang turun, tapi alhamdulillah kami masih tetap produksi," katanya.

Tantangan terbesar adalah pemasaran. Jumlah orang yang memperkenalkan produk masih terbatas, dan pengembangan kebun terkendala modal serta tenaga.

Ada kalanya kopi dititipkan ke warung tetapi tidak laku.

Dari Jambi ke Belanda

Kopi Delapan perlahan menemukan pasarnya. Penjualan masih didominasi Kecamatan Bathin III Ulu, tetapi sudah menembus luar Kabupaten Bungo dan luar Provinsi Jambi.

Bahkan, sebagian produk pernah dikirim ke Bangkok, Thailand.

Neti juga pernah terbang ke Belanda mewakili Indonesia dalam kerja sama dengan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Selama dua pekan di Negeri Kincir Angin, ia mengunjungi berbagai institusi dan memperkenalkan Kopi Delapan.

>>> Tito: Kemendagri dan Pemda Dukung Optimalisasi Program BSPS

Ia menceritakan bagaimana masyarakat menjaga hutan di kampung halamannya. Sambutan yang diterima membuat Neti terkesan.

"Rasa cinta orang terhadap hutan dan lingkungan sangat tinggi.

Mereka memberikan apresiasi kepada saya yang mungkin bagi saya yang tinggal di hutan ini enggak seberapa nilainya," ujarnya.

"Perempuan memang terlihat lemah, tetapi untuk menjaga hutan, perempuan sangat kuat," kata Neti bangga.

Berkah Perdagangan Karbon

Di balik perkembangan kelompok ini, ada cuan dari perdagangan karbon.

Kementerian Kehutanan mencatat potensi karbon Indonesia dari sektor kehutanan yang dapat diperdagangkan mencapai sekitar 13,4 miliar ton CO2e hingga 2050.

Pada 2018, perdagangan karbon hasil proyek karbon di wilayah Jambi mulai dilakukan.

Fredi Yusuf, Carbon Accounting Specialist KKI Warsi, mengatakan sebagian dana hasil perdagangan karbon digunakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok kopi.

Melalui dana tersebut, para petani dibawa belajar ke Jangkat, Kabupaten Merangin, salah satu sentra kopi di Jambi. Mereka mempelajari teknik budidaya seperti penanaman, pemangkasan, dan perawatan tanaman.