Hujan turun perlahan di Desa Laman Panjang, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi.

Di atas tikar hijau di lantai rumah produksi sederhana, beberapa cangkir kopi robusta tersaji bersama makanan kecil.

>>> Efek Domino Smelter Freeport: Ekonomi dan Rantai Pasok Berkelanjutan

Kepulan uap tipis mengepul dari permukaan kopi. Suara seruputan bersahutan dengan rintik hujan yang membasahi atap bangunan kayu tersebut.

Di tempat inilah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kelompok Agam Maju Bersama mengolah Kopi Delapan.

Merek kopi robusta ini lahir dari hutan dan kini mulai dikenal hingga ke luar negeri.

Nama "Delapan" diambil dari Desa Laman Panjang, kampung asal kopi tersebut. Kemasannya sederhana: sebungkus 50 gram dijual Rp10 ribu, dengan ilustrasi petani di kebun kopi dan logo halal.

Di bagian belakang kemasan tertulis kalimat unik: "Kopi robusta Delapan ini cocok jadi teman ngumpul bareng teman dan keluarga, dijamin bikin ngantuk hilang."

Perjalanan Kelompok Kopi Agam Maju Bersama

Kelompok ini terbentuk pada 2019 setelah para petani sadar bahwa kopi yang mereka tanam hanya dijual dalam bentuk biji kepada tengkulak.

Padahal, nilai jual bisa lebih tinggi jika diolah menjadi produk jadi.

Namun, kegiatan produksi baru benar-benar berjalan pada 2023. "KUPS-nya mulai berjalan pada 2023," ujar Neti, anggota yang bertanggung jawab di bidang pemasaran, kepada CNNIndonesia.

com pada Juni lalu.

Hampir seluruh proses produksi dikerjakan sendiri oleh anggota: dari memilih bibit, menanam, merawat pohon, memanen, menggiling, hingga memasarkan.

Dalam sebulan, mereka biasanya produksi dua kali, masing-masing sekitar 20 kilogram kopi.

Pada tahun pertama, omzet kotor mencapai sekitar Rp21 juta. Meski begitu, Neti mengakui perjalanan usaha tidak selalu mulus.