Penyakit gagal jantung masih menjadi tantangan kesehatan besar di Indonesia. Jumlah penderitanya terus meningkat, dan banyak pasien harus kembali dirawat di rumah sakit setelah sebelumnya dinyatakan stabil.

Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD), Indonesia menempati peringkat kedua prevalensi gagal jantung tertinggi di Asia setelah China.

>>> OMG Hello! Terlanjur Mencintaimu Turun Bareng Arisan, Inilah Acara TV dengan Rating Terbaik Hari ini 15 Juli 2026

Posisi Indonesia berada di atas Malaysia yang berada di peringkat ketiga.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, mengatakan tingginya angka gagal jantung merupakan akumulasi berbagai penyakit kronis dan faktor risiko yang tidak dikendalikan sejak dini.

"Gagal jantung adalah manifestasi akhir dari penyakit jantung.

Ini akumulasi dari banyak hal yang akhirnya berkembang menjadi gagal jantung," kata Rony dalam acara Media Gathering Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (14/7).

Menurut Rony, tingginya kasus gagal jantung menjadi persoalan serius karena menurunkan kualitas hidup pasien dan meningkatkan angka rawat ulang di rumah sakit.

Hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, efek samping kemoterapi, hingga komplikasi kehamilan dapat menyebabkan penurunan fungsi pompa jantung jika tidak ditangani dengan baik.

Faktor Risiko Tidak Terkendali

Rony menjelaskan, salah satu penyebab tingginya angka gagal jantung di Indonesia adalah rendahnya pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Ia mencontohkan hipertensi yang dibiarkan bertahun-tahun membuat jantung bekerja lebih keras. Seiring waktu, kondisi ini melemahkan otot jantung hingga berujung gagal jantung.

"Kalau faktor risikonya tidak dikontrol dengan baik, akhirnya menjadi gagal jantung. Kebanyakan orang Indonesia faktor risiko penyakit kardiovaskularnya tidak dijaga," ujarnya.