Google Tolak Pemblokiran DNS, VPN, dan IP untuk Lawan Pembajakan, Ini Alasannya
Google menyatakan penolakannya terhadap metode pemblokiran DNS, VPN, dan alamat IP yang sering digunakan untuk memberantas situs pembajakan.
Sikap ini disampaikan sebagai tanggapan atas permintaan masukan dari Komisi Eropa mengenai langkah efektif melawan konten bajakan.
>>> Samsung Minta Izin Data Kesehatan untuk AI, Tolak Berisiko Kehilangan Data
Menurut Google, pemblokiran semacam itu tidak efektif karena pengguna dapat dengan mudah beralih ke DNS atau VPN lain.
Selain itu, pemilik situs bajakan bisa memindahkan alamat IP atau membuat situs cermin (mirror site) untuk tetap bisa diakses.
Risiko Pemblokiran IP Address
Google juga menyoroti risiko pemblokiran berbasis alamat IP. Satu alamat IP saat ini sering digunakan bersama oleh banyak layanan, terutama di infrastruktur cloud modern.
Akibatnya, pemblokiran satu IP dapat mengganggu layanan lain yang tidak melanggar aturan.
Google pernah mengalami hal ini pada 2019, ketika ISP di Portugal memblokir beberapa virtual IP milik Google, yang berdampak pada layanan Google Cloud dan pelanggannya.
Google menegaskan bahwa pemblokiran akses tidak menghapus konten bajakan dari internet.
File dan layanan ilegal tetap tersedia dan dapat diakses melalui jalur lain, sehingga metode ini hanya mengatasi gejala, bukan akar masalah.
Alternatif yang Disarankan Google
Sebagai gantinya, Google menyarankan pendekatan yang lebih efektif, yaitu menghadirkan layanan legal yang mudah diakses dengan harga terjangkau.
Contohnya, kehadiran Netflix dan Spotify pada awal berhasil menekan angka pembajakan karena memberikan alternatif yang praktis.
Namun, situasi kini berubah.
Harga langganan yang semakin mahal, banyaknya platform streaming, dan konten yang terpecah di berbagai layanan membuat sebagian pengguna kembali beralih ke jalur ilegal.
Menariknya, Google bukan pihak yang netral dalam isu ini.
Mereka memiliki Google Public DNS (8.8.8.8), Google Cloud, dan layanan lain yang bisa terdampak jika pemblokiran diperluas.
Hal ini wajar membuat Google memiliki sudut pandang berbeda dari regulator.
Update Terbaru
5 Bahaya Hipertensi Tidak Terkontrol, Bisa Berakibat Fatal
Selasa / 14-07-2026, 13:43 WIB
Juan Soto Jamin Francisco Lindor Kembali ke All-Star Musim Depan
Selasa / 14-07-2026, 13:43 WIB
Big Cass Umumkan Kembali ke WWE pada 3 Agustus
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Jaksa KPK Kutip Lagu Broery Marantika untuk Ingatkan Pejabat Bea Cukai
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
IHSG Bangkit 0,61 Persen ke 6.074 pada Sesi I Siang Ini
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Bupati Gowa Walk Out dari Sidang Pansus Hak Angket DPRD
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Pramono Siapkan Tempat Kumpul Khusus Lansia di Jakarta
Selasa / 14-07-2026, 13:42 WIB
Cavaliers Kalahkan Heat di Las Vegas Summer League
Selasa / 14-07-2026, 13:38 WIB
Lamine Yamal Tanggapi Sindiran Rajoy soal Timnas Prancis
Selasa / 14-07-2026, 13:38 WIB
Ikut Cardio Dance di Wellnest Vol.2, Gratis Cuma Butuh Semangat Sehat
Selasa / 14-07-2026, 13:38 WIB
Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Tak Sabar Bela Timnas Indonesia
Selasa / 14-07-2026, 13:36 WIB
Prediksi Superkomputer Opta: Inggris Bungkam Argentina dalam 90 Menit
Selasa / 14-07-2026, 13:35 WIB
Kasus Park Na Rae Memanas: Mantan Manajer Sewa Pengacara Baru
Selasa / 14-07-2026, 13:35 WIB
Berkas Lengkap, Yaqut Siap Buka-bukaan di Persidangan Kasus Haji
Selasa / 14-07-2026, 13:35 WIB







