Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, angka tersebut kurang dari 30 persen.

Ketersediaan obat kanker juga timpang.

WHO mencatat hanya 9-54 persen obat kanker prioritas tersedia di negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah, sementara di negara berpendapatan tinggi mencapai 68-94 persen.

Bahkan, 23 negara di dunia belum memiliki fasilitas radioterapi sama sekali.

Meningkatnya jumlah penduduk dan harapan hidup membuat semakin banyak orang memasuki usia lanjut, kelompok dengan risiko kanker lebih tinggi.

Faktor gaya hidup seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, penggunaan tembakau, dan obesitas juga berperan besar.

Dr. Andre Ilbawi, pemimpin Tim Pengendalian Kanker WHO, mengatakan bahwa meskipun ada kemajuan ilmu pengetahuan dan pengobatan, cerita tentang kanker belum sepenuhnya positif.

Banyak pasien menghadapi konsekuensi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang berat.

WHO menegaskan bahwa upaya melawan kanker tidak bisa hanya mengandalkan pengobatan.

>>> 18 Anime Paling Dinanti yang Tayang Agustus-Desember 2026

Pencegahan melalui pola hidup sehat, deteksi dini, dan pemerataan akses layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus dan kematian akibat kanker.