Era 1980-an memiliki dinamika unik antara kakak dan adik, terutama sebelum maraknya gawai.

Kisah pribadi sering menyoroti bagaimana adik laki-laki menggunakan tiruan, permainan fisik, dan jebakan rumit untuk mengganggu kakak perempuan mereka.

>>> Genap 75 Tahun, Lautan Luas Percepat Transformasi Bisnis Berkelanjutan

Namun, rilis film Labyrinth pada Desember 1986 menjadi titik temu langka bagi saudara kandung. Menurut The Guardian, film fantasi ini memicu perbincangan hangat di lingkungan sekolah.

Penonton saat itu belum mengetahui bahwa film tersebut meraih hasil buruk di box office Amerika Serikat pada musim panas, yang sangat memengaruhi sutradara Jim Henson.

Orang tua tetap mengatur pemutaran film selama liburan, tertarik dengan kehadiran David Bowie sebagai Jareth si Raja Goblin dan naskah yang dikreditkan kepada Terry Jones.

Kisahnya mengikuti Sarah, diperankan Jennifer Connelly, yang tanpa sengaja memanggil goblin untuk mengambil bayi laki-lakinya, Toby, saat badai.

Bowie memberikan penampilan fisik yang khas, menantang Sarah untuk menavigasi labirin luas dalam batas waktu 13 jam. Kegagalan akan mengubah bayi itu menjadi goblin secara permanen.

Efek Praktis dan Nuansa Unik

Proyek fitur terakhir yang disutradarai Jim Henson ini menggunakan efek praktis secara ekstensif, memastikan setiap elemen di layar memiliki kualitas taktil.

Produksi menghindari sentuhan digital, mengandalkan pertunjukan fisik seperti manipulator bola kristal Michael Moschen yang bekerja dari belakang Bowie.

Narasi meminjam elemen tematik dari cerita tradisional seperti The Wizard of Oz, Alice in Wonderland, dan karya sastra Maurice Sendak.

Potongan teatrikal akhir membangun identitas tersendiri melalui perpaduan humor cerdas, suasana mencekam, dan urutan petualangan absurd.

Adegan berkesan termasuk karakter Wiseman yang eksentrik dan Ludo, makhluk besar yang lembut.