Di sebuah kebun anggur di selatan Ukraina, Mykhailo Molchanov memangkas dedaunan dari tanaman merambatnya. Anjingnya, Direktor, setia mengikutinya.

Pemandangan itu tampak indah dan damai.

>>> Main Mobile Legends di HP 1 Jutaan, Mungkinkah Tembus 100 FPS?

Namun, di antara barisan anggur Chardonnay, ada rudal Rusia yang belum meledak, setengah terkubur di tanah. Itu adalah pengingat mengerikan bahwa perang masih terus berlangsung.

Keluarga Molchanov mempertimbangkan untuk memindahkan rudal tersebut, tetapi alat berat yang diperlukan justru akan merusak tanaman anggur mereka.

Akhirnya, mereka memilih bekerja di sekitarnya.

Bertahan di Antara Dua Garis Pertempuran

Saat invasi Rusia dimulai pada 24 Februari 2022, Mykhailo dan istrinya, Svitlana, meninggalkan rumah mereka di Mykolaiv dan menyeberangi sungai menuju kebun anggur mereka.

Namun, pada awal Maret, mereka justru berada di antara dua garis pertempuran.

Putra mereka, Heorhii, menggambarkan rudal yang meluncur ke angkasa seperti peluncuran kosmonot.

Untungnya, pertahanan Mykolaiv berhasil, dan keluarga itu memiliki tempat perlindungan bom yang layak, yaitu ruang bawah tanah anggur mereka.

Mykhailo bercanda bahwa mereka dulu memiliki Cabernet 2017 yang cukup baik di sana, tetapi sekarang tidak lagi.

Memperluas Kebun di Tengah Kesulitan

Meskipun perang mengancam, keluarga Molchanov justru memperluas lahan kebun anggur mereka.

Mereka berencana meningkatkan produksi dari 10.000 botol per tahun menjadi 30.000-50.000 botol dalam satu dekade ke depan.

Selain varietas anggur internasional seperti pinot gris dan cabernet, mereka juga menanam anggur asli Ukraina seperti telti kuruk dan odesa black.

Mykhailo optimis bahwa anggur Ukraina memiliki potensi besar untuk berkembang.

Mereka juga terlibat dalam koperasi baru yang kelak diharapkan bisa menarik wisatawan ke jalur menuju Olbia, pemukiman Yunani kuno di Laut Hitam yang saat ini terlalu berbahaya untuk dikunjungi.