Donald Trump menunjukkan performa yang berubah-ubah dalam KTT Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tahunan di Ankara, Turki. Demikian laporan The Guardian.

Presiden Amerika Serikat itu tiba di ibu kota Turki dalam keadaan marah karena kegagalan gencatan senjata sementara yang ia sepakati dengan Iran.

>>> Pakar Hukum Administrasi Negara Dukung Kortas Tipikor Polri Usut Dugaan Korupsi Batu Bara PLTU

Dalam konferensi pers di samping Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Trump mengkritik kepemimpinan Islam Iran, menyebut mereka "sampah" dan "orang sakit".

Ia juga menyatakan ketidakpuasan mendalam terhadap NATO, aliansi yang dibentuk pada 1949 untuk melawan komunisme Soviet.

Trump mengatakan ia "tidak senang dengan NATO" dan mengkritik negara anggota, termasuk Inggris, karena tidak membantu AS dalam perang melawan Iran.

Selain itu, ia kembali mengangkat klaim mengenai wilayah Greenland dan menuntut AS memutus hubungan dagang dengan Spanyol terkait target belanja pertahanan.

Namun, beberapa jam kemudian, Trump mengubah nadanya secara signifikan setelah pertemuan pribadi. Ia menggambarkan pertemuan itu sangat positif dan bersatu.

"Ada banyak cinta di ruangan itu," kata Trump.

Ia juga memuji Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, menyebutnya "jenius" karena mampu mempertahankan negaranya selama perang melawan Rusia.

Peran Erdogan dalam Perubahan Sikap Trump

Analis menilai perubahan sikap mendadak Trump sebagian didorong oleh hubungan eratnya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Trump mengaku mungkin akan melewatkan KTT jika diadakan di tempat lain, menyoroti ikatan khususnya dengan pemimpin Turki.

"Turki dalam banyak hal jauh lebih setia daripada negara lain yang kami kira akan setia," ujar Trump. "Kamu tidak pernah tahu mengapa suatu hubungan itu istimewa."