Sikap Trump di KTT NATO Ankara: Dari Marah hingga Puji Sekutu
Ian Lesser dari German Marshall Fund mengamati bahwa hubungan Trump dengan Erdogan membantu menstabilkan suasana KTT secara keseluruhan.
"Fakta bahwa Presiden Trump memiliki hubungan yang tampaknya sangat dekat dengan Presiden Erdogan mungkin berperan dalam menstabilkan keadaan [dan memastikan] bahwa aksi teatrikal tidak benar-benar meluber ke dalam KTT," kata Lesser.
Lesser menambahkan, "Presiden Trump sangat ingin memastikan bahwa Presiden Erdogan dapat mengklaim keberhasilan dari KTT ini."
>>> Bandara Bandanaira Bakal Punya Runway 2,2 Km, Dorong Konektivitas dan Ekonomi Maluku
Sanjungan dari Mark Rutte juga berperan, karena kepala NATO sering memuji Trump karena mendorong negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan.
Profesor Charles Kupchan dari Georgetown University mencatat bahwa Rutte berhasil menunjukkan kepada Trump bahwa tekanannya terhadap sekutu Eropa membuahkan hasil.
"Rutte benar-benar melakukan pekerjaan yang baik untuk mencoba mengatakan kepada Trump, 'Hei, ini berhasil. Kami menjadi sekutu yang lebih mampu.
Kami mendengarmu,'" ujar Kupchan.
Perubahan sikap Trump terhadap Zelenskyy, yang sebelumnya ia katakan "Kamu tidak memegang kartu," mungkin berasal dari kekecewaan terhadap Vladimir Putin.
Lesser mencatat bahwa tekanan dari Kongres AS menjelang pemilihan paruh waktu juga kemungkinan memengaruhi perubahan strategi presiden.
"Saya pikir ada pertanyaan tentang opini kongres di sini," kata Lesser.
Meskipun akhir yang lebih ringan, para ahli meyakini retorika Trump akan meninggalkan dampak abadi pada cara sekutu Eropa memandang keandalan AS.
Kupchan berpendapat bahwa NATO tetap berfungsi secara fungsional, mencatat bahwa 80.000 tentara AS terus ditempatkan di seluruh Eropa.
Proyeksi ke depan menunjukkan NATO akan semakin dipimpin Eropa seiring mitra bekerja untuk mencapai belanja pertahanan 5% dari PDB mereka.
"Dia menikmati kemampuannya untuk membuat orang lain panik, karena itulah gayanya," kata Kupchan.
Kupchan menyimpulkan bahwa Trump adalah gejala dari runtuhnya pusat politik Amerika dan kesinambungan kebijakan luar negeri.
Para pemimpin internasional dari negara-negara seperti Jerman dan Jepang kini harus merencanakan potensi disfungsi politik jangka panjang di Amerika Serikat.
Update Terbaru
Argentina Kalahkan Swiss 3-1, Melaju ke Semifinal Piala Dunia
Minggu / 12-07-2026, 17:35 WIB
Otoritas Brasil Selamatkan Perempuan yang Diperbudak Selama 55 Tahun
Minggu / 12-07-2026, 17:35 WIB
Final Wimbledon: Unggulan Teratas Sinner dan Zverev Berebut Gelar
Minggu / 12-07-2026, 17:35 WIB
Pembalap NASCAR Thomas Annunziata Dirawat Usai Truk Terbakar di Tengah Balapan
Minggu / 12-07-2026, 17:35 WIB
Apa Penyebab Agus Hutomo Meninggal Dunia? Inilah Biodata Ayahanda Bella Bonita Istri Denny Caknan yang Meninggal Dunia
Minggu / 12-07-2026, 17:34 WIB
Negosiasi Kontrak Hambat Pengumuman Garcia vs Benn
Minggu / 12-07-2026, 17:32 WIB
11 Rahasia Memulai Kembali di Usia Paruh Baya dari Para Pebisnis Sukses
Minggu / 12-07-2026, 17:31 WIB
Ed Davey Desak Perlindungan Demokrasi Lebih Kuat Usai Kunjungan Robinson ke Rusia
Minggu / 12-07-2026, 17:31 WIB
Profil Agus Hutomo Ayah Bella Bonita Istri Denny Caknan yang Meninggal Dunia: Umur, Agama dan IG
Minggu / 12-07-2026, 17:30 WIB
Rayakan Moana Live Action, Disney Gandeng Lyodra dan Amora Lemos
Minggu / 12-07-2026, 17:28 WIB
Mengenal Regulasi Investasi dan Pasar Modal di Indonesia: Landasan Hukum, Otoritas, dan Perkembangan Terkini
Minggu / 12-07-2026, 17:28 WIB
Fitur Tersembunyi Chrome Ini Ubah Browser Jadi Alat Produktivitas
Minggu / 12-07-2026, 17:28 WIB
Karyawan Douglas Byrd High School Didakwa dalam Kecelakaan Bus
Minggu / 12-07-2026, 17:28 WIB
ESDM Alokasikan 212 Juta Ton Batu Bara untuk PLN pada 2026
Minggu / 12-07-2026, 17:28 WIB







