Sirene dan peringatan kondisi darurat kembali terdengar di sejumlah negara kawasan Teluk, menyusul eskalasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat.

Ketegangan memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran menembaki sebuah kapal kontainer yang dianggap melanggar rute pelayaran yang disepakati.

>>> Jude Bellingham: Nyawa Lini Tengah Inggris, Sang Pemecah Kebuntuan

Iran juga kembali menutup Selat Hormuz.

Sirene di Bahrain, Qatar, dan UEA

Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi sirene serangan udara telah diaktifkan dan berbunyi di negara tersebut pada Minggu (12/7).

"Warga dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju ke tempat aman terdekat," demikian pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Bahrain.

Di Qatar, suara ledakan terdengar di atas ibu kota Doha setelah AS mengonfirmasi serangan balasan terhadap Iran.

Koresponden AFP melihat intersepsi di langit kota yang menjadi mediator antara Washington dan Teheran tersebut.

Penduduk di Qatar menerima pesan di ponsel yang mendesak mereka untuk "tetap berada di rumah dan tempat yang aman".

Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan tingkat ancaman keamanan di negara itu tinggi.

>>> Kalah Taruhan, Norwegian Pasang Logo British Airways di Instagram

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan pertahanan udara sedang menghadapi ancaman rudal dan drone.

Suara yang terdengar di seluruh negeri disebut sebagai hasil dari operasi penanggulangan rudal dan UAV yang sedang berlangsung.

Serangan Balasan AS

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru diluncurkan pada Minggu (12/7) pukul 23.15 GMT atau sekitar pukul 02.45 dini hari waktu Teheran.

Serangan yang disebut atas arahan Presiden Donald Trump itu dilakukan setelah pasukan Garda Revolusi Iran secara terang-terangan menyerang sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.

"Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," kata CENTCOM dalam pernyataannya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hanya mengatakan bahwa "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar akibatnya."

Serangan ini dikhawatirkan akan semakin mempersulit upaya negosiasi antara AS dan Iran.

>>> Inggris Jadi Tim Pertama yang Hentikan Haaland Setelah 636 Hari

Hambatan utama dalam mencapai kesepakatan adalah masa depan Selat Hormuz, di mana Teheran bersikeras mengendalikan pelayaran sementara Washington menuntut navigasi tanpa batasan.