Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan penyandang dana utama Iran, Ali Ansari, dan 13 individu serta entitas lainnya.

Mereka diduga terkait dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

>>> PLN Hadir di PRJ 2026 dengan Layanan Listrik, Promo, dan Gim Interaktif

Sanksi ini diumumkan pada hari yang relatif tenang setelah seminggu konflik memanas. Sebelumnya, Iran menyerang tiga kapal tanker komersial Qatar dan Saudi, mendorong AS menyerang Iran.

Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.

Ali Ansari merupakan seorang bankir dan pengusaha Iran yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab.

Ia sebelumnya juga dikenai sanksi oleh Inggris karena disebut berperan dalam mendukung secara finansial kegiatan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Ansari disebut telah mengalihkan kekayaan yang didanai publik ke portofolio properti dan kepemilikan komersial di luar negeri.

Hal itu dilakukan untuk memperkaya dirinya sendiri, elite pemerintah, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Departemen Keuangan AS menyebut Ansari sebelumnya merupakan pemilik dan direktur Bank Ayandeh yang dikenai sanksi AS.

Bank itu kini bangkrut dan ditutup atas perintah pemerintah Iran pada pertengahan Oktober 2025.

>>> Penampakan Bupati Sukoharjo Etik Suryani Jadi Tahanan KPK

Ia menggunakan banyak perusahaan cangkang dan rekening bank di berbagai yurisdiksi untuk mengumpulkan aset senilai jutaan dolar di bawah Smart Global Limited yang berbasis di Saint Kitts dan Nevis.

Perusahaan induk itu didirikan pada 2011.

"Meskipun atas nama Ansari, banyak dari kepentingan keuangan ini pada akhirnya dipegang untuk keuntungan finansial Mojtaba Khamenei, keluarganya, dan elite Iran lainnya dalam rezim, dan IRGC yang telah melindungi Ansari dari hukuman meskipun korupsinya yang terang-terangan dan kerusakan signifikan yang telah ia timbulkan pada ekonomi dan rakyat Iran," tulis pernyataan Departemen Keuangan AS.