Di tengah gejolak pasar keuangan global, Indonesia dinilai tetap menjadi tujuan investasi jangka panjang yang menarik.

Fundamental ekonomi yang solid, besarnya pasar domestik, dan reformasi transparansi di pasar modal menjadi faktor utama penopang kepercayaan investor.

>>> Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp107 Juta, MUI Soroti Ketidakadilan Pengelolaan Dana

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini perlu dipandang secara menyeluruh.

Ia menekankan pentingnya fundamental ekonomi nasional, kinerja perusahaan tercatat, dan berbagai reformasi yang dijalankan regulator serta Self-Regulatory Organizations (SRO).

"Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel.

Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang," ujar Jeffrey melalui keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).

Dominasi Investor Domestik Semakin Kuat

Optimisme tersebut tercermin dari meningkatnya partisipasi investor domestik.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID).

Investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 9,9 juta SID, meningkat 15,1% dibandingkan akhir tahun 2025 yang tercatat sebanyak 8,6 juta SID.

Peran investor domestik juga semakin dominan dalam struktur kepemilikan saham.

Investor domestik kini menguasai 61% kepemilikan saham, terdiri dari investor institusi domestik sebesar 43,3% dan investor ritel sebesar 17,7%.

Sementara itu, investor asing memiliki porsi kepemilikan sebesar 39,1%.

Dari sisi transaksi, investor domestik berkontribusi sebesar 65,5% terhadap total nilai perdagangan di BEI.