Chief Investment Office (CIO) DBS menyoroti momentum investasi pada kuartal III 2026 yang dipengaruhi oleh sejumlah tren penggerak pasar global.

Peristiwa global terkini mendorong investor meninjau ulang asumsi portofolio. Kesenjangan antara ekspektasi politik dan hasil kebijakan dalam 18 bulan terakhir mengubah lanskap makroekonomi.

>>> Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS pada Jumat Sore

Kebijakan Amerika Serikat dinilai meningkatkan risiko geopolitik, belanja pertahanan, dan defisit struktural. Situasi ini membentuk rezim makro baru yang rentan terhadap inflasi.

Ketegangan di Timur Tengah juga berdampak signifikan pada instrumen investasi global. Konflik memicu risiko harga energi bertahan lebih tinggi akibat penurunan persediaan minyak.

Dinamika Inflasi Global dan Tantangan Portofolio

CIO DBS Hou Wey Fook menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika inflasi global. "Konflik di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran inflasi saat perekonomian global masih tangguh," ujarnya.

Lonjakan investasi AI turut mendorong inflasi jangka pendek. Pembangunan infrastruktur AI meningkatkan permintaan perangkat lunak, komponen elektronik, dan daya listrik.

Tiongkok yang keluar dari deflasi juga memicu inflasi global. Tekanan harga stabil berkat kebijakan anti-involusi dan kenaikan biaya input komoditas.

Bank sentral utama seperti Federal Reserve, ECB, dan BOE mengadopsi pandangan hawkish. Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga akhir tahun.

Inflasi tinggi menantang kerangka portofolio 60/40 tradisional. Investor membutuhkan diversifikasi alternatif untuk mitigasi risiko.

Emas tetap efektif sebagai instrumen aman. Eksposur selektif terhadap komoditas dan saham domestik Tiongkok juga menawarkan diversifikasi karena korelasi rendah dengan ekuitas global.

Strategi DBS di Kuartal III 2026

Perekonomian global memasuki siklus super belanja modal baru didorong ekspansi AI dan energi. Penyedia layanan awan meningkatkan pengeluaran karena permintaan komputasi melampaui pasokan.