>>> Cek Kesehatan Rampung, Eks Menag Yaqut Kembali Dibawa ke Rutan KPK

Di sektor energi, kekhawatiran ketahanan energi memicu pemulihan belanja modal. DBS merekomendasikan penerima manfaat seperti ekosistem semikonduktor, jaringan perangkat keras, dan layanan peralatan minyak.

DBS Group Research menyarankan posisi netral terhadap saham dan obligasi pada 3Q26. Pertumbuhan AS tetap resilien ditopang konsumsi, ekspor energi, dan siklus investasi.

Obligasi saat ini lebih menarik dibanding saham dari segi penilaian. Namun, saham AS mendominasi alokasi regional karena laba kuat di sektor AI.

Pasar saham digerakkan momentum kuat dan didominasi saham terkait AI. DBS menyarankan pendekatan barbell dengan eksposur AI dan bisnis intensitas energi rendah.

Untuk obligasi, krisis Timur Tengah dan belanja modal AI menjaga tekanan inflasi tinggi. Aliran dana ke obligasi korporasi mendorong imbal hasil naik.

"Untuk kredit korporasi, kami memilih durasi 5-7 tahun untuk portofolio obligasi," kata Hou Wey Fook.

Pada pasar berkembang, selektivitas penting dengan fokus pada negara yang memiliki kemandirian energi dan kredibilitas kebijakan. Disiplin bottom-up diperlukan dengan memilih penerbit obligasi berkualitas.

Emas diperkirakan kembali menegaskan peran sebagai aset aman. DBS tetap konstruktif terhadap emas karena faktor struktural seperti dedolarisasi global.

Di pasar swasta, ketidakpastian makro memperkuat kebutuhan selektivitas manajer dan aset berkualitas. Investor disarankan meningkatkan paparan ke investasi bersama perusahaan tahap lanjut dengan pendapatan tangguh.

>>> Kabar Duka: Pentolan Bonek Andie Peci Meninggal Dunia

Bank DBS memberikan insights mendalam dan relevan agar nasabah dapat menentukan arah investasi bijak di tengah volatilitas pasar.