Warga Tibet di Jepang Protes UU Persatuan Etnis China
>>> TNI Bantah Kerahkan Prajurit Berseragam Loreng ke Polda Metro Jaya
Kami mencari hak asasi manusia, kebebasan, dan martabat melalui perdamaian dan dialog, bukan melalui kekerasan," ujarnya dalam aksi tersebut.
Menurut Obara, hilangnya bahasa dan budaya Tibet akan berarti hilangnya identitas bangsa Tibet itu sendiri. "Jika budaya dan bahasa kami hilang, itu berarti bangsa Tibet ikut hilang.
Hal itu tidak boleh terjadi," tuturnya.
Obara juga mengatakan dirinya meyakini aksi Lobga bertujuan menarik perhatian PBB dan media internasional terhadap situasi di Tibet.
Budaya dan Identitas Tibet
Penyelenggara aksi, Tsering Dorjee, menilai undang-undang baru tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat integrasi budaya dan politik China di wilayah Tibet.
"Selama lebih dari 70 tahun China melakukan apa yang diinginkannya. Melalui undang-undang ini, mereka kini mencoba menghapus budaya dan identitas Tibet sebagai langkah terakhir.
Tetapi kami tidak akan menyerah," katanya.
Menurut sejumlah organisasi Tibet di pengasingan, sekitar 160 warga Tibet, termasuk biksu dan tokoh masyarakat, telah melakukan aksi bakar diri sejak kerusuhan di Lhasa pada 2008 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Beijing di wilayah tersebut.
Namun Obara menegaskan bahwa ajaran Buddha Tibet memandang bunuh diri sebagai tindakan yang dilarang secara agama. "Bakar diri adalah dosa yang sangat besar.
Namun banyak orang Tibet merasa bersedia menanggung dosa tersebut demi Tibet," katanya.
Pemerintah China sebelumnya menyatakan UU Persatuan Etnis bertujuan memperkuat persatuan nasional, meningkatkan komunikasi antarwilayah, serta mendukung pembangunan bersama seluruh kelompok etnis di negara itu.
>>> Dokter Tifa Sebut Kasus Ijazah Jokowi Sudah Masuk Ranah Internasional
Namun bagi banyak komunitas Tibet di luar negeri, implementasi aturan tersebut akan menjadi penentu apakah ruang bagi bahasa, budaya, dan identitas lokal masih dapat dipertahankan di tengah semakin kuatnya kebijakan integrasi nasional Beijing.
Update Terbaru
Conor McGregor Buka Peluang Rematch Tinju dengan Floyd Mayweather
Jumat / 10-07-2026, 07:09 WIB
Yassine Bono Catat Rekor Penalti di Piala Dunia Usai Gagalkan Eksekusi Mbappe
Jumat / 10-07-2026, 07:09 WIB
KPK OTT Bupati Sukoharjo Etik Suryani
Jumat / 10-07-2026, 07:09 WIB
Lil Rel Howery Donasikan Rp 16 Juta untuk Keluarga Nolan Wells
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Taylor Frankie Paul Sebut Dirinya 'Full-Blown MILF' di Pesan ke Mantan
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Data Piala Dunia 2026: Prancis Paling Dirugikan, Argentina Paling Diuntungkan Wasit
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Produksi Motor Honda di Indonesia Tembus 100 Juta Unit
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Rachmat Gobel, Pendiri Panasonic Gobel dan Mantan Mendag, Tutup Usia
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Sidang Praperadilan Roy Suryo Digelar Hari Ini
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Iran Akhirnya Makamkan Ali Khamenei di Tengah Serangan Baru AS
Jumat / 10-07-2026, 07:07 WIB
Rekor Prancis usai ke Semifinal Piala Dunia, Selalu Lolos ke Final
Jumat / 10-07-2026, 07:06 WIB
IHSG Diproyeksi Menguat pada Perdagangan Jumat
Jumat / 10-07-2026, 07:06 WIB
5 Hal Menarik dari Moana Live-Action yang Perlu Diketahui
Jumat / 10-07-2026, 07:06 WIB
Casio Luncurkan Lima Jam Tangan Otomatis Edifice EFK-200 di AS
Jumat / 10-07-2026, 06:59 WIB







