Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Amerika Serikat memanfaatkan statusnya sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 untuk memberikan tekanan terhadap negara-negara pesaing, termasuk Iran.

Melalui unggahan di platform media sosial X pada Rabu (8/7/2026), Pezeshkian mengecam tindakan Washington yang disebutnya sebagai bentuk “perundungan”.

>>> Roy Suryo Ajukan Praperadilan Kedua, Refly Harun Targetkan Rontokkan Pasal 32 UU ITE

Ia menilai kebijakan AS sebagai tuan rumah turnamen sepak bola dunia tersebut tidak terlepas dari pola kebijakan luar negeri negara itu.

“Perilaku pemerintah AS sebagai tuan rumah Piala Dunia mengikuti kebijakan luar negerinya selama ini: membengkokkan aturan, mengintimidasi lawan, menciptakan hambatan, dan berbuat curang.

Ini adalah taktik MAGA mereka. Iran menolak permainan semacam itu.

Kami teguh mempertahankan hak-hak kami,” tulis Pezeshkian.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Washington dan Teheran tengah berada dalam situasi yang semakin tegang.

Ketegangan meningkat setelah serangan udara Amerika Serikat terhadap sejumlah sasaran militer Iran akibat eskalasi konflik terkait aktivitas maritim di kawasan Selat Hormuz.

Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah “berakhir”.

Di sisi lain, perselisihan terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026 antara kedua negara telah berlangsung selama beberapa pekan.

Pembatasan Visa Hambat Timnas Iran

Salah satu sumber ketegangan berasal dari pembatasan visa yang diberlakukan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut membuat sejumlah staf teknis penting tim nasional Iran tidak dapat memasuki wilayah AS.

>>> Tanpa Tambah Pajak, Ini Alasan Purbaya Yakin Negara Bisa Dapat Rp3.208 Triliun Tahun Ini

Selain itu, aturan keamanan juga melarang Iran mendirikan kamp pelatihan di Amerika Serikat selama turnamen berlangsung. Akibat pembatasan tersebut, tim Iran memilih bermarkas di Tijuana, Meksiko.