Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, untuk memperluas pasar produk manufaktur bernilai tambah ke kawasan Eurasia.

Sebagai Official Partner Country pada pameran industri terbesar di Rusia tersebut, Indonesia membawa enam pelaku industri nasional.

>>> Roy Suryo Optimistis Menang Lagi di Praperadilan Kasus Ijazah Jokowi

Mereka menawarkan beragam produk unggulan, mulai dari batik dan mesin batik, drone, layanan survei geospasial, kopi specialty, dekorasi rumah, hingga fesyen dan tekstil.

Partisipasi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempertemukan produk manufaktur Indonesia dengan buyer, distributor, dan investor dari negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).

Peluang semakin besar seiring implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang memberikan tarif preferensial bagi berbagai produk unggulan Indonesia.

Daya Saing Produk Manufaktur Indonesia

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, produk manufaktur Indonesia memiliki daya saing yang tidak hanya bertumpu pada kualitas dan inovasi.

"Produk manufaktur Indonesia tidak hanya mampu bersaing dari sisi kualitas dan inovasi, tetapi juga menawarkan nilai tambah yang lahir dari kreativitas, keberlanjutan, dan identitas budaya yang kuat," ujar Agus, Selasa (8/7/2026).

Menurutnya, keikutsertaan Indonesia dalam INNOPROM 2026 merupakan langkah strategis untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat posisi industri manufaktur nasional di kawasan Eurasia.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita menambahkan, produk manufaktur Indonesia memiliki keunggulan yang sulit ditiru karena memadukan identitas budaya, keterampilan warisan, dan kemampuan produksi sesuai standar global.

"INNOPROM 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan keunggulan tersebut sekaligus membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan di kawasan Eurasia," kata Reni.