Stella mengatakan, keberhasilan riset ini menunjukkan model kolaborasi yang ideal antara universitas, industri, pemerintah, dan lembaga pendanaan.

"Kita tidak memulai dari penandatanganan MoU, tetapi dari kolaborasi riset yang sungguh-sungguh terlebih dahulu," ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah kini juga mengubah skema pendanaan riset.

Sekitar 50% anggaran riset nasional akan difokuskan untuk pendanaan strategis sesuai prioritas nasional, termasuk pengembangan vaksin dan alat kesehatan.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan, pihaknya sengaja dilibatkan sejak awal proses penelitian agar pengembangan vaksin tidak terhambat saat memasuki tahap registrasi.

"Jangan berpikir BPOM hanya tukang stempel.

Kalau baru datang di akhir, justru banyak produk yang akhirnya ditolak karena sejak awal tidak memenuhi standar," kata Taruna.

Ia menyebut apabila berhasil, vaksin tersebut berpotensi menjadi vaksin dengue berbasis mRNA pertama di dunia.

Pendanaan penelitian vaksin dengue mRNA berasal dari LPDP dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Direktur Fasilitasi Riset di LPDP, Ayom Widipaminto mengatakan, LPDP mengalokasikan Rp7 miliar, sedangkan PT Etana memberikan Rp9 miliar, sehingga total pendanaan riset mencapai Rp16 miliar untuk pengembangan prototipe hingga pelaksanaan uji klinis awal.

"Program tersebut kini memasuki tahun kedua dan akan berlanjut pada tahun ketiga," kata ia.

LPDP juga mengungkapkan dana abadi penelitian saat ini telah mencapai sekitar Rp14 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1 triliun dapat dimanfaatkan setiap tahun untuk mendukung riset strategis nasional, termasuk pengembangan vaksin dan alat kesehatan.

>>> Titanium Lamina Luncurkan Bio Luminance, Material Interior Bercahaya dalam Gelap

"Kami siap mendanai pengembangan vaksin maupun alat-alat kesehatan yang dibutuhkan Indonesia," ujar Ayom.