Ketua Peneliti pengembangan vaksin dengue mRNA dari Universitas Indonesia, Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.

D. mengatakan, prototipe vaksin masih berada pada tahap praklinis (pre-clinical).

Meski demikian, hasil awal menunjukkan respons antibodi terhadap empat serotipe virus dengue yang beredar di Indonesia lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang saat ini tersedia.

"Dari hasil pre-clinical trial yang kita lakukan, titer antibodi untuk menetralisasi virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 strain Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang sudah ada di Indonesia," ujarnya.

Tim peneliti menargetkan dalam enam bulan ke depan vaksin tersebut mulai memasuki tahap uji klinis awal pada manusia di Indonesia.

Kolaborasi Indonesia-China

Wakil Presiden Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang mengatakan, kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi riset Indonesia-China dalam pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA.

>>> Setting Spray yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Produk yang Bikin Makeup Awet dan Minim Transfer

"Perjanjian trilateral yang ditandatangani akan memperkuat kerja sama jangka panjang kedua negara," kata ia.

Ia menyebut kerja sama tersebut memiliki tiga fokus utama, yakni membantu Indonesia membangun kapasitas riset vaksin berbasis mRNA, memperkuat talenta bioteknologi lokal melalui kemitraan akademik, serta mengembangkan model kolaborasi untuk menghadapi ancaman penyakit infeksi di masa depan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menjelaskan, kolaborasi riset ini sebenarnya telah dimulai sejak 2023, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai wakil menteri.

Saat itu ia mempertemukan peneliti Universitas Indonesia dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University karena melihat kesesuaian antara kebutuhan Indonesia dan keahlian yang dimiliki universitas tersebut.