Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu menilai dinasti Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) mulai kehilangan pengaruh.

Hal itu disampaikan Said Didu melalui akun X pribadinya, Rabu (8/7/2026).

>>> BEI Buka Dialog dengan S&P DJI Usai Indonesia Masuk Watchlist 2027

Ia menyebut terdapat tiga gejala utama yang menunjukkan dinasti Jokowi mulai kehilangan keistimewaan.

Tiga Gejala Melemahnya Dinasti Jokowi

Gejala pertama adalah proses hukum yang kembali berjalan normal. Kasus dugaan ijazah palsu Jokowi kini bisa diproses tanpa intervensi, berbeda dengan kesan sebelumnya.

Gejala kedua adalah terbongkarnya kondisi bisnis anak-anak Jokowi, khususnya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.

Said Didu menyoroti sejumlah perusahaan milik Gibran dan Kaesang yang disebut sudah bangkrut atau tidak terdengar lagi.

Menurutnya, dari delapan perusahaan Gibran seperti Chilli Pari, Markobar, dan Mangkokku di bawah PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat) sudah tidak terdengar lagi.

>>> Ramalan Zodiak 8 Juli: Aries Lebih Sabar, Taurus Kontrol Emosi

Sementara dari 12 perusahaan Kaesang seperti Sang Pisang, TernakKopi, Siap Mas, dan Es Doger, sebagian besar sudah bangkrut.

Ia menilai hal itu menunjukkan perusahaan tersebut tidak layak atau ada praktik pencucian uang di masa lalu.

Gejala ketiga adalah penolakan safari politik Jokowi di sejumlah daerah. Kunjungan mantan presiden itu tidak lagi selalu disambut positif, bahkan ada penolakan.

Sebelumnya, tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi, Roy Suryo, memenangkan praperadilan di PN Jakarta Selatan pada Selasa (7/7/2026).

Hakim tunggal I Ketut Darpawan menyatakan penggeledahan, penangkapan, dan penahanan terhadap Roy Suryo oleh Polda Metro Jaya tidak sah karena cacat formil.

>>> Enzo Fernandez Cetak Gol Kemenangan Argentina di Piala Dunia 2026

Putusan tersebut tidak otomatis membatalkan berkas penyidikan, melainkan hanya menyangkut keabsahan proses penegakan hukum.