Di sebuah kapel batu di pinggir hutan belantara abad pertengahan, dua wanita melangsungkan pernikahan. Para tamu mengenakan jubah pelangi, baju zirah bercahaya, dan topi tinggi.

Seorang pria berotot bersayap malaikat memimpin upacara.

>>> Chandra Asri Buka ASPIRE Graduate Program 2026 untuk Talenta Muda

Di atas kepala kedua mempelai, terpampang tulisan "I do" dalam teks kuning terang.

Ini adalah RuneScape, sebuah game role-playing online multipemain masif (MMO) yang berlatar di dunia Gielinor ala Tolkien.

Memasuki usia 25 tahun pada 2025, RuneScape telah menjadi ruang sosial virtual yang penting dan bagian dari kehidupan sehari-hari ribuan pemain.

Amelia, salah satu pengantin virtual, bertemu istrinya di aplikasi kencan tetapi pertama kali terikat melalui kecintaan mereka pada game ini.

"Kencan pertama dan kedua kami hampir sepenuhnya membahas RuneScape," kenang Amelia.

Morgan, teman dekat Amelia dari Midlands, mendirikan UWU Girls, sebuah klan RuneScape yang dirancang untuk pemain dari seluruh spektrum gender.

"Kami mengadakan pertemuan langsung, dan bagi banyak wanita ini, itu adalah pertemuan pertama mereka dengan orang asing secara online," kata Morgan.

Dari Proyek Mahasiswa hingga Fenomena Global

RuneScape dimulai pada 2001 sebagai proyek mahasiswa Cambridge, Andrew Gower. Grafisnya yang sederhana dan mekanisme yang repetitif tidak revolusioner dibandingkan Everquest atau World of Warcraft.

Namun, kebaruan RuneScape membuatnya tak terhentikan di akhir 2000-an: sederhana, dapat dimainkan di browser web, dan gratis—meskipun versi berfitur lebih lengkap tersedia dengan langganan bulanan.

Saat ini, terdapat lebih dari 300 juta akun di semua versi game, dengan pendapatan seumur hidup lebih dari $3 miliar.

Suasana RuneScape berada di antara Tolkien dan Monty Python. Pemain memulai petualangan melawan dewa, memecahkan misteri pembunuhan, dan bahkan menggagalkan rencana penguin jahat untuk menguasai dunia.