Ini tepatnya adalah early warning dari pelaku industri," ujarnya.

Menurut Ronny, penyebab munculnya kekhawatiran PHK tidak berasal dari satu faktor saja. Tekanan global dan persoalan domestik justru saling memperkuat sehingga membuat dunia usaha semakin berhati-hati.

Dari sisi global, ia melihat permintaan ekspor Indonesia sedang melemah. Industri tekstil, alas kaki, hingga elektronik mulai mengalami penurunan pesanan dari pasar luar negeri.

Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi ikut disesuaikan. Ketika pesanan terus menurun, tenaga kerja menjadi salah satu komponen biaya yang paling cepat dikurangi perusahaan.

Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah juga memperbesar tekanan terhadap industri yang menggunakan bahan baku impor dalam jumlah besar.

Namun, Ronny menilai tekanan dari luar negeri seharusnya tidak akan terlalu besar apabila kondisi domestik mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha.

"Yang membuat situasi menjadi lebih sensitif adalah faktor domestik.

Dunia usaha saat ini menghadapi ketidakpastian kebijakan yang relatif tinggi, baik dari sisi regulasi, perpajakan, hingga kebijakan sektoral yang sering berubah atau tidak sinkron," katanya.

Menurut Ronny, pelaku usaha sebenarnya tidak hanya membutuhkan berbagai bentuk insentif. Yang jauh lebih penting adalah kepastian arah kebijakan sehingga perusahaan dapat menyusun rencana bisnis dalam jangka panjang.

"Ketika kepastian itu tidak terpenuhi, maka risk perception meningkat, dan perusahaan cenderung mengambil langkah defensif, termasuk efisiensi tenaga kerja," imbuhnya.

Ia menambahkan, persoalan klasik seperti biaya logistik yang tinggi, rigiditas pasar tenaga kerja di sejumlah sektor, kenaikan biaya energi, upah, dan bunga pinjaman turut mempersempit margin keuntungan perusahaan.

Dalam kondisi tersebut, PHK sering kali menjadi pilihan tercepat untuk mempertahankan kelangsungan bisnis, meski bukan keputusan yang diinginkan perusahaan.