TikTok-Tokopedia Group membantah rumor pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Indonesia. Perusahaan justru mengumumkan masih membuka lebih dari 100 lowongan kerja baru di Tanah Air.

Presiden Direktur PT Tokopedia Stephanie Susilo menegaskan bahwa kabar PHK massal tidak benar. Ia menyampaikan klarifikasi tersebut dalam rapat bersama DPR RI.

>>> Jokowi Dikabarkan Lanjutkan Safari Politik ke Jawa Tengah

"Saat ini kami juga melakukan rekrutmen untuk lebih dari 100 posisi di Indonesia.

Demikianlah kami sampaikan untuk meluruskan berita-berita yang beredar di masyarakat," kata Stephanie, dikutip Selasa (7/7).

Menurut Stephanie, pembukaan ratusan posisi tersebut menjadi bukti bahwa perusahaan tetap melakukan ekspansi bisnis meskipun sedang menjalankan penataan organisasi.

Ia kembali menegaskan bahwa tidak ada PHK di lingkungan TikTok maupun Tokopedia.

"Yang pertama adalah tidak ada pemutusan hubungan kerja di TikTok atau Tokopedia Group.

Yang ada adalah penataan tenaga kerja yang sedang kami lakukan dan internal mobility di dalam TikTok atau Tokopedia Group," ujarnya.

>>> Dasco Klarifikasi Ucapan Ultah untuk Nadiem, Bukan Soal Amnesti

Stephanie menjelaskan, sebagian karyawan memang memilih mengambil paket kompensasi dan melanjutkan karier di perusahaan lain. Sementara sebagian lainnya dipindahkan ke berbagai unit usaha dalam TikTok Group.

Respons Pemerintah dan DPR

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan bahwa jumlah karyawan yang memilih paket kompensasi hanya sekitar 200 orang.

Sebagian di antaranya telah mendapatkan pekerjaan baru maupun dipindahkan ke anak usaha TikTok.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai langkah perusahaan membuka lebih dari 100 posisi baru menunjukkan komitmen TikTok Group untuk terus bertumbuh di Indonesia.

Ia mengapresiasi kebijakan internal mobility yang memberi kesempatan pekerja tetap berkarier di dalam grup.

Sebelumnya, isu PHK massal terhadap 90 persen karyawan Tokopedia sempat viral di media sosial.

>>> Ramalan Zodiak 7 Juli: Aries Kontrol Emosi, Gemini Kerja Keras

TikTok menjelaskan bahwa perusahaan hanya melakukan penyesuaian organisasi, khususnya pada fungsi riset dan pengembangan (R&D), guna mendukung strategi bisnis jangka panjang serta memperkuat investasi di Indonesia.