Sejumlah massa aksi menggelar unjuk rasa di depan Monumen Bajra Sandhi, Renon, Kota Denpasar, Bali, pada Senin (6/7) siang.

Aksi ini digelar untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro rakyat.

>>> Pengisi Suara Cloud Janjikan Akhir Final Fantasy 7 Revelation yang Mengharukan

Massa terdiri dari gabungan organisasi dan kelompok sipil seperti Kekal Bali, Frontier Bali, hingga Walhi Bali.

Mereka mengusung tema "Grubug Agung Pulihkan Bali & Indonesia," yang berarti kekacauan besar dan pemulihan Bali dan Indonesia.

Dalam aksi tersebut, mereka membawa spanduk dan poster protes, salah satunya bertuliskan 'Cintaku Pada Lingkungan Terhalang Alih Fungsi Lahan'.

Mereka juga membawa kulkul bulus (kentongan) dan tampah berisi sayur-mayur.

Massa melakukan teatrikal yang menggambarkan seorang pelanggan mengeluhkan harga bahan pokok yang melambung tinggi kepada pedagang.

Pedagang pun mengeluh terpaksa menaikkan harga akibat rupiah melemah dan harga BBM naik.

Teatrikal itu menggambarkan rakyat kecil ingin menyuarakan aspirasi, namun menghadapi situasi demokrasi yang amburadul. Pejuang HAM dan lingkungan disebut mendapat tindakan represif dari aparat, termasuk penyiraman air keras.

Aksi teatrikal ditutup dengan pemukulan kulkul bulus oleh massa, lalu mereka membacakan pernyataan sikap.

Sekjen Frontier Bali, I Wayan Sathya Tirtayasa, mengatakan pemukulan kulkul sebagai simbol bahwa demokrasi hari ini amburadul dan tidak baik-baik saja.

"Maka simboliknya dengan kulkul bulus, seperti bagaimana budaya Bali hari ini (memukul) kulkul bulus dengan kencang dan simboliknya adanya kekacauan di negeri ini," kata Tirtayasa.

>>> Microsoft PHK 3.200 Karyawan Xbox, CEO Akui Bisnis Tidak Sehat

Ia menjelaskan, tema Grubug Agung merujuk pada situasi negara dan Pulau Dewata yang sedang tidak baik-baik saja.