Co-parenting menjadi pola pengasuhan yang semakin banyak diterapkan orang tua setelah perceraian. Meski hubungan sebagai pasangan telah berakhir, peran sebagai ayah dan ibu tetap berlangsung seumur hidup.

Sayangnya, tidak semua orang tua mampu menjaga komunikasi dan kerja sama yang baik setelah berpisah.

>>> Keluarga Duga Sekdin Bangkalan Tewas di Juanda Korban Love Scam

Padahal, anak tetap membutuhkan dukungan, kasih sayang, dan kehadiran kedua orang tuanya dalam proses tumbuh kembang.

Cara orang tua menyikapi perubahan dalam keluarga juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak.

Karena itu, memahami konsep co-parenting menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, stabil, dan mendukung bagi anak.

Apa Itu Co-Parenting?

Secara sederhana, co-parenting adalah bentuk pengasuhan di mana kedua orang tua tetap bekerja sama dalam membesarkan anak meski tidak lagi menikah atau menjalin hubungan romantis.

Dalam sistem ini, kedua orang tua berbagi tanggung jawab terkait pendidikan, kesehatan, kebutuhan emosional, hingga aktivitas sehari-hari anak.

Fokus utama co-parenting bukanlah hubungan antara mantan pasangan, melainkan kesejahteraan anak.

Menurut psikolog klinis Sabrina Romanoff, hubungan yang kooperatif dan saling menghormati setelah perpisahan dapat memberikan contoh positif bagi anak.

Sikap tersebut membantu anak merasa lebih aman sekaligus mendukung perkembangan sosial dan emosionalnya dalam jangka panjang.

Di tengah meningkatnya jumlah keluarga dengan orang tua yang berpisah, co-parenting menjadi salah satu solusi untuk memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Jenis-Jenis Co-Parenting

Peneliti mengidentifikasi beberapa pola hubungan co-parenting yang umum terjadi setelah perceraian atau perpisahan.

Conflict co-parenting ditandai dengan konflik yang kerap terjadi antara kedua orang tua. Komunikasi biasanya berjalan kurang baik dan masing-masing pihak memiliki aturan, jadwal, maupun pola asuh yang berbeda.