Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa terjebak di tengah pertengkaran orang tuanya.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan dalam pengasuhan dapat meningkatkan risiko masalah perilaku, kecemasan, depresi, hingga tekanan psikologis pada anak.

Cooperative co-parenting merupakan bentuk pengasuhan bersama yang paling ideal.

Dalam pola ini, kedua orang tua mampu berkomunikasi dengan baik, saling berbagi informasi mengenai perkembangan anak, serta bekerja sama dalam mengambil keputusan penting.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini umumnya merasakan suasana yang lebih stabil dan konsisten.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pola pengasuhan kooperatif berkaitan dengan meningkatnya rasa percaya diri, prestasi akademik yang lebih baik, serta kesehatan mental yang lebih positif.

Parallel co-parenting terjadi ketika kedua orang tua menjalankan pengasuhan secara terpisah dengan komunikasi yang sangat minim.

Meski konflik tidak terlalu terlihat, kerja sama di antara keduanya juga hampir tidak ada.

Aturan dan rutinitas di masing-masing rumah tangga sering kali berbeda sehingga anak harus menyesuaikan diri dengan dua lingkungan yang tidak selalu selaras.

Namun, model ini terkadang menjadi pilihan ketika komunikasi langsung berpotensi memicu konflik yang lebih besar.

Perlu dipahami bahwa bentuk co-parenting dapat berubah seiring waktu. Hubungan yang awalnya penuh konflik bisa berkembang menjadi lebih kooperatif apabila kedua pihak berkomitmen mengutamakan kebutuhan anak.

>>> Pelatih Meksiko Javier Aguirre Mundur Usai Kalah dari Inggris

Tips Menerapkan Co-Parenting yang Baik

Agar pengasuhan bersama berjalan lebih efektif, berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.

Jaga komunikasi secara teratur. Komunikasi yang baik merupakan fondasi utama co-parenting.

Kedua orang tua perlu saling berbagi informasi mengenai pendidikan, kesehatan, aktivitas, dan perkembangan anak untuk menghindari kesalahpahaman.