Badai tropis bisa berubah menjadi super typhoon dalam waktu singkat. Fenomena yang tampak supernatural ini sebenarnya mengikuti aturan fisika yang jelas.

Para ilmuwan akhirnya menjelaskan apa yang memicu transformasi dahsyat tersebut. Faktor utamanya adalah suhu permukaan laut yang hangat dan kondisi atmosfer yang mendukung.

>>> Minyak Esensial untuk Nyeri Osteoartritis: Efektif tapi Perlu Hati-hati

Mesin Panas dari Laut Hangat

Typhoon, sebutan untuk badai di Pasifik barat, bekerja seperti mesin panas raksasa. Ia mengambil energi dari permukaan laut yang hangat.

Semakin hangat dan dalam air laut, semakin besar bahan bakar yang dimiliki badai.

Contohnya, Typhoon Bavi melintasi perairan bersuhu 29–30°C dengan kandungan panas laut yang sangat tinggi.

Selain itu, angin tingkat atas yang lemah juga berperan penting. Angin kencang di ketinggian, yang disebut wind shear, biasanya merusak struktur badai.

Tanpa hambatan itu, Bavi bebas menguat.

Intensifikasi Cepat yang Sulit Diprediksi

Para peramal memiliki istilah khusus, rapid intensification, yaitu peningkatan kecepatan angin setidaknya 35 mph dalam 24 jam.

>>> Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%, Pemerintah Ubah Peran KEK Jadi Pusat Talenta dan Riset

Bavi melampaui itu dengan lonjakan sekitar 75 mph dalam sehari dan 100 mph dalam 36 jam.

Begitu kecepatan angin bertahan di atas 150 mph, sebuah typhoon mendapat label "super".

Penguatan eksplosif ini adalah hal tersulit diprediksi oleh meteorolog, dan membuat masyarakat pesisir memiliki sedikit waktu bersiap.

Kaitan dengan Pemanasan Global

Laut yang lebih hangat menyimpan lebih banyak panas, yang berarti lebih banyak bahan bakar. Penelitian mengaitkan pemanasan laut dengan badai yang lebih kuat dan ledakan intensifikasi mendadak.

Penguatan Bavi akhirnya terhenti oleh siklus penggantian dinding mata, sebelum menghantam Pulau Rota sebagai salah satu typhoon terkuat yang pernah tercatat di wilayah itu.

>>> Bupati Lampung Timur Tanggapi Warga Perbaiki Jalan Swadaya dan Ajak Tak Bayar Pajak

Meski satu badai tidak membuktikan perubahan iklim, bahan-bahan yang membuat Bavi meledak—suhu laut mendekati rekor dan cadangan panas dalam—justru semakin sering terjadi di dunia yang memanas.